Breaking News:

Berita Banjarnegara

Luput dari Perhatian, Anak Tuna Rungu Terhambat Komunikasinya Saat Orang Ramai-ramai Pakai Masker

Asya Diah Priandini (14) sontak meminta pelayan toko di sebuah pusat perbelanjaan di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah,

TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI
Asya Diah Priandini, bersama ibunya Mainah di rumah Desa Tunggoro Kecamatan Sigaluh Banjarnegara 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG, WONOSOBO- Asya Diah Priandini (14) sontak meminta pelayan toko di sebuah pusat perbelanjaan di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk membuka masker di wajahnya. Kata-kata yang keluar dari bibir pelayan itu tidak mampu dipahaminya. Sang pelayan menuruti. Ia membuka masker lalu kembali mengucapkan sesuatu. Asya baru mengerti,  sang pelayan ternyata sedang merayu, agar produknya laku.

Asya tentu tak berniat melanggar protokol kesehatan yang digemborkan pemerintah untuk memerangi Covid 19. 

Ia juga takut jika virus jahat itu menyerangnya. Tetapi yang dilakukannya sungguh terpaksa. Asya harus meminta lawan bicaranya mencopot masker agar gerak bibirnya terbaca. Ia menderita gangguan pendengaran sejak belia. Sejak itu, ia sama sekali tak mengenali suara. Asya mengandalkan indera mata untuk memahami pesan orang di sekitarnya. Dari ekspresi bibir orang, ia meraba makna.

“Saya tidak mengerti kata orang yang pakai masker,”katanya

Kampanye masker untuk mencegah penularan virus Covid 19 cukup berhasil. Kesadaran masyarakat mengenakan masker meningkat. Dimana-mana, mulut mereka tertutup rapat. Bagi orang normal, keadaan ini tak jadi soal. Tapi bagi orang berkebutuhan khusus seperti Asya, komunikasinya sungguh terganggu.

Di ruang tamu rumah Asya, Desa Tunggoro Kecamatan Sigaluh Banjarnegara, (23/8), Mulyani, guru pembimbingnya menyuruh muridnya itu mengambilkan air putih. Mul, sapaan akrabnya, bicara cukup keras.  Tapi gerak bibirnya tak tampak karena tertutup masker kain. Asya tampak kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang teromongkan.

Lalu Mul mencoba membuka masker, kemudian menggantinya dengan face shield untuk menutup mukanya. Dengan pelindung tembus pandang itu, ekspresi mukanya terbaca. Ia mengulang instruksinya untuk Asya. Kali ini responnya beda. Gadis itu langsung bisa menangkap maksud Mul karena bisa membaca pergerakan bibirnya.

“Sama-sama,”jawab Asya saat Mul berujar terima kasih karena telah dilayani

Warga berkebutuhan khusus tuna rungu memang minoritas. Tetapi bukan berarti hak-hak mereka terabaikan. Mulyani mengatakan, dalam situasi normal, tuna rungu sebetulnya tidak begitu terkendala ketika beraktivitas di luar. Mereka bahkan tidak memerlukan ketersediaan fasilitas khusus di ruang publik, layaknya tuna netra atau tuna daksa.

Halaman
1234
Penulis: khoirul muzaki
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved