Breaking News:

Pendidikan

Program Reka Cipta Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Industri

Kerjasama perguruan tinggi - industri diharapkan terjalin kuat melalui program reka cipta. Selama ini, keduanya terkesan berjalan sendiri-sendiri.

ISTIMEWA
Dosen Sekolah Vokasi Undip memberikan bantuan mesin ayakan gula semut dan mesin sealer plastik pengemas di dusun Indrokilo, Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jumat (20/09/2019). Karya perguruan tinggi seperti ini diharapkan bisa ditindaklanjuti kalangan industri untuk memproduksi secara massal. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 turut mendorong akselerasi link and match antara perguruan tinggi dan dunia industri. Sebelumnya, hal ini masih belum optimal tercapai lantaran keduanya masih berjalan sendiri-sendiri. Bahkan, perguruan tinggi belum dapat bersinergi dengan permasalahan dihadapi industri. Ujungnya, terjadi missing link antara pereka cipta (perguruan tinggi) dan investor (industri).

“Perguruan tinggi berlomba menciptakan alat dan obat untuk menghadapi pandemi Covid-19," ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi ( Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan Tinggi (Kemendikbud) Prof. Nizam, seperti dikutip dari kompas.com.

Dirjen Dikti mengungkapkan, saat ini lebih dari 1.000 inovasi berbentuk teknologi dan obat diciptakan oleh perguruan tinggi, di antaranya masker 3D, robot perawat, drone, alat rapid test, ventilator, dan sebagainya.

"Sementara itu, investor turut mendukung produksi berbagai reka cipta tersebut. Sejatinya, fenomena ini menjadi contoh yang selayaknya dilakukan antara pereka cipta dan investor,” papar Prof Nizam.

Berdasarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, riset reka cipta merupakan tujuan dari perguruan tinggi yang melahirkan lulusan-lulusan dengan semangat kemandirian, inovatif, kompetitif dan solutif bagi masyarakat. Dengan landasan tersebut dirasa penting mengedepankan program Kampus Merdeka, pola baru dalam sistem pembelajaran pendidikan tinggi, sehingga beberapa hal perlu disesuaikan menghadapi perubahan zaman seperti kurikulum, sistem teknologi informasi dan lainnya.

Prof. Nizam menjelaskan, Reka Cipta merupakan sebuah upaya revitalisasi dan aktualisasi terhadap sebuah karya, agar kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh semua elemen secara efisien dan efektif dalam kehidupan sehari. Berangkat dari fenomena itu, pemerintah melalui Ditjen Dikti memutuskan membangun kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan.

Tujuannya, untuk membangun ekosistem Reka Cipta di Indonesia sebagai implementasi Kampus Merdeka serta mendorong peran dunia industri dalam mendukung para pereka cipta di perguruan tinggi. (kompas.com)

Penulis: -
Editor: moh anhar
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved