Breaking News:

Berita Pendidikan

Sekolah di Bawah Kemenag Bak Anak Tiri Negara, Soal Bantuan Kuota Internet Hanya Bisa Gigit Jari

Alhasil, di tengah hingar-bingar dan harapan pencairan bantuan paket data, sekolah di bawah Kemenag di Kota Semarang hanya bisa gigit jari

Tribun Jateng/Budi Susanto
Ahmad Jupri pengajar di MI Raudlatul Athfal, menunjukan keretakan dinding, serta amblasnya lantai di bangunan MI, Senin (20/7/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Satuan pendidikan di bawah wewenang Kemenag bak anak tiri negara.

Pasalnya satuan pendidikan tersebut tak mendapat jatah alokasi anggaran paket internet.

Berdeda dengan sekolah di bawah naungan Kemendikbud yang mendapatkan kucuran dana.

Kepala Manyung Bu Fat Semarang Jadi Klaster Baru Covid, 25 Orang Diswab, Bagaimana Nasib Pengunjung?

Avanza Alami Kecelakaan Karambol di Kartasura, Tabrak Motor dan Truk, Diduga Sedang Balap Liar

Pelakor Sempat Kejang-kejang Saat Berhubungan Badan dengan Suami Orang, Tak Lama Kemudian Tewas

Saldo Tabungan Puluhan Nasabah Bank di Pekalongan Mendadak Hilang, Ini Penjelasan Aestika

Bahkan untuk mendukung PJJ, Kemendikbud mendapat Rp 7 triliun lebih untuk kuota internet.

Alokasi dana triliun rupiah berupa paket kuota itu, kini tengah dibagikan ke jutaan pelajar di bawah kewenangan Kemendikbud.

Dana BOS yang sudah digelontorkan ke sekolah dibawah kewenangan Kemang pun dirasa kurang mencukupi.

Ditambah banyaknya satuan pendidikan seperti MI, atau MTS yang terletak di zona merah atau orange.

Hal itu membuat sekolah terpaksa menerapkan PJJ dengan pendanaan terbatas.

Tak terkecuali di Kota Semarang, yang kini masuk zona merah Covid-19.

Alhasil, di tengah hingar-bingar dan harapan pencairan bantuan paket data, sekolah di bawah Kemenag di Kota Semarang hanya bisa gigit jari.

"Wong ya sampai sekarang memang tidak ada bantuan kuota internet dari pemerintah, seperti sekolah di bawah Kemendikbud," kata Ahmad Jupri satu di antara pengajar di MI Raudlatul Athfal Kota Semarang, Jumat (11/9/2020).

Dilanjutkannya, hanya dana BOS yang bisa diandalkan untuk menopang biaya kuota internet.

"Ya kalaupun harus memenuhi kebutuhan siswa untuk internet hanya dari dana BOS. Kami juga tidak berharap ke pemerintah, kalau ada ya Alhamduliah kalau tidak ya sudah," tuturnya.

Dijelaskannya, di MI Raudlatul Athfal terdapat 162 murid yang hingga kini menuntut ilmu secara daring.

"Pastinya kami berharap ada alokasi untuk membantu siswa, namun kondisinya seperri ini. Ya berharap saja ada donatur," ucap. (bud)

Penulis: budi susanto
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved