Breaking News:

UKSW Salatiga

Bosan Belajar Daring?

Kebosanan bukan hal yang menyenangkan untuk dialami, dan dapat menimbulkan masalah baru seperti marah, frustasi, mogok makan atau makan terlalu banyak

IST
Dr. Wahyuni Kristinawati, M.Si., Psi, Dosen Fakultas Psikologi UKSW 

Oleh: Dr. Wahyuni Kristinawati, M.Si., Psi
Dosen Fakultas Psikologi UKSW

BUKAN rahasia lagi pandemi Covid-19 sudah berdampak pada semua aspek kehidupan, salah satunya adalah dunia pendidikan. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, sudah beberapa bulan terakhir ini anak didik dan juga orang tua menjalani pembelajaran dari rumah. Satu hal yang mulai dirasakan adalah munculnya rasa bosan.

Bosan di sini beragam mulai dari bosan karena berada di rumah terus-menerus, mulai bosan karena belajar online setiap hari tanpa bertemu fisik dengan teman sekelas dan juga guru. Keadaan ini ternyata juga tidak hanya dirasakan anak didik, orang tua juga mulai mengeluh jenuh dan lelah karena mau tidak mau terlibat dalam pembelajaran online anak-anak.

Eastwood, Frischen, Fenske, dan  Smilek (2012) menuliskan bahwa terdapat dua hal dalam kebosanan. Pertama, diperlukan tingkat energi atau gairah psikologis yang wajar untuk merasa bosan. Ketika orang memiliki gairah yang rendah dan tidak banyak yang terjadi di dunia, maka mereka sering merasa rileks. Namun, ketika mereka memiliki gairah yang tinggi dan memiliki energi yang ingin dicurahkan untuk sesuatu, tetapi tidak dapat menemukan aktivitas yang menarik; timbulah kebosanan. Kedua, kebosanan biasanya terjadi ketika orang kesulitan memfokuskan perhatian mereka dan mereka yakin alasan kesulitan ini ada di lingkungan.

Kebosanan bukan hal yang menyenangkan untuk dialami, dan dapat menimbulkan masalah baru seperti marah, frustasi, mogok makan atau makan terlalu banyak, serta perilaku negatif lain. Kebosanan pada siswa dapat berdampak pada munculnya sikap negatif tersebut, serta dapat juga menimbulkan penurunan prestasi akademik pada siswa. 

Studi yang dilakukan Tam dkk (2019) mempersepsikan guru sedang bosan meningkatkan rasa bosan siswa itu sendiri, yang pada gilirannya menurunkan motivasi belajar mereka. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa ketika guru bosan di kelas, atau ketika siswa merasa bahwa gurunya bosan, motivasi belajar siswa juga akan rendah.  Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh guru masih sangat besar pada siswa, bahkan saat pembelajaran daring dilakukan.

Pemberian model guru yang bersemangat dan memiliki motivasi tinggi perlu ‘”terbaca” oleh siswa meski tidak terjadi pertemuan tatap muka. Orang tua juga dapat mendorong anak untuk memiliki persepsi positif tentang sekolah dan pembelajaran daring, meski dapat tetap bersikap kritis. Hal ini akan membuat anak memiliki gairah untuk melibatkan diri dalam pembelajaran daring.

Sekolah dan guru dapat mengadakan pertemuan khusus untuk mengeksplorasi penyebab terjadinya kebosanan dan bersama dengan orang tua dan anak, termasuk komite sekolah untuk mencari jalan keluar. Dengan cara tersebut kata “bosan”  akan lebih jarang terdengar dan diganti “suka’’ atau “senang” dan pilihan kata positif lainnya. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved