Breaking News:

SMART WOMEN

Nita Terapkan Metode Pelatihan Atlet Panjat Tebing yang Lebih Modern

Pelatih atlet panjat tebing di Batang, Dyah Kusuma Wardhani Yusnita mendapat predikat sebagai lulusan terbaik pelatih fisik nasional tahun 2020.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Dyah Kusuma Wardhani Yusnita, Pelatih Atlet Panjat Tebing 

BARU-BARU ini, Dyah Kusuma Wardhani Yusnita mendapat predikat sebagai lulusan terbaik pelatih fisik nasional tahun 2020. Dua tahun sebelumnya, Nita, panggilannya mendapat peringkat terbaik pelatih panjat tebing nasional level 2. Kini, ia sedang mempersiapkan karir kepelatihannya ke level 3 tingkat Asia.

Perempuan kelahiran 6 September 1997 ini memang sangat konsen dalam hal kepelatihan. Semua itu dilakukan Nita supaya bisa meninggalkan budaya kepelatihan yang konservatif, alias kuno. Sebab, kata Nita, sebagain besar pelatih di Indonesia, terutama pada panjat tebing masih berprinsip melatih berdasarkan pengalaman selama masih jadi atlet.

"Nah itu konservatif. Melatih sesuai apa yang ia dapat selama jadi atlet. Jadi, mereka ga mau belajar lagi. Itu bisa merugikan anak-anak didiknya kalau metode pelatihannya disamakan. Makanya, yang saya terapkan berbeda. Saya pakai sport science untuk melatih atlet-atlet saya," ujar penyuka lontong kupang, makanan khas asal Surabaya ini.

Ia menegaskan bahwa ada ilmu dan teori ilmiah dalam menerapkan metode pelatihan. Setiap jenjang usia, menurut Nita, ada porsinya masing-masing. Ia bilang jangan sampai atlet di usia anak sudah diberi beban latihan fisik yang sama dengan dewasa. Nah, hal itulah yang biasa dilakukan oleh para pelatih dengan gaya konservatif.
Bagi Nita, atlet usia anak sebenarnya cukup hanya dilatih kelenturan, teknik, dan pergerakan saja. Ia menilai jika disamaratakan dengan pola latihan atlet dewasa, maka atlet-atlet muda berisiko mengalami cedera lebih dini. Hal ini tentu dapat menenggelamkan karir bibit-bibit muda.

"Kalau sudah cedera, kita sebagai pelatih bakal susah meng-upgrade kemampuan fisiknya lagi. Jika stagnan terus, para atlet mesti jenuh. Karirnya jadi mandeg. Inilah dampak apabila pola latihan anak dengan dewasa disamaratakan. Pelatih ini terlalu mengandalkan pengalamannya, tanpa dibarengi secara keilmuan karena olahraga manapun akan terus berkembang seiringnya zaman," urainya.

Demi menerapkan metode pelatihan yang modern, Nita rela sekolah sarjana lagi. Sebab, dulu ia merupakan sarjana ekonomi. Maka dari itu, ia kuliah lagi di program studi Pendidikan Ilmu Keolahragaan di Unwahas. Kini, Nita sedang menempuh program magisternya di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan keilmuan yang sama.

Selain meraih titel dalam bidang keolahragaan, ia juga lebih banyak belajar dari sumber literatur berbahasa inggris. Sebab, Nita menilai literatur untuk metode kepelatihan modern masih minim yang berbahasa Indonesia. Sehingga, mau tak mau ia harus menyedot referensi berbahasa asing sebanyak mungkin.

"Sehabis S2 saya rampung, saya berencana ingin menulis buku yang berkaitan soal metode kepelatihan. Banyak hal di pikiran yang ingin saya tuangkan melalui tulisan, khususnya di bidang olahraga panjat tebing ini," beber dara yang juga memiliki hobi mendaki gunung ini. (akhtur gumilang)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved