Breaking News:

OPINI

Belajar dari Kasus Banyumas

KASUS meningkatnya jumlah warga yang positif covid-19 di Banyumas memberikan pelajaran berharga bagi kita semua.

Belajar dari Kasus Banyumas
TRIBUN JATENG
Opini Tribun Jateng 30/09/2020

KASUS meningkatnya jumlah warga yang positif covid-19 di Banyumas memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Kabar terakhir, total santri di Ponpes Karangsuci Purwokerto yang positif Covid-19 mencapai 190 orang. Angka itu hasil penambahan 63 orang dari swab sebelumnya. Para santri ini sudah dievakuasi ke tempat karantina di Balai Diklat Baturraden dan di rumah sakit.
Pemkab Banyumas masih menunggu hasil tes swab sekitar 300-an orang santri yang belum keluar termasuk para pengurus ponpes. Ledakan jumlah pasien covid-19 ini berawal dari 127 orang santri di ponpes Karangsuci, yang positif Covid-19. Mereka menjalani karantina di RS Banyumas 36, RS Siaga Medika 14, sedangkan 74 santri di Baturraden.

Banyaknya pasien yang harus ditangani ini membuat membuat kapasitas ruang isolasi Covid-19 di Banyumas hampir penuh. Lampu kuning sudah menyala, jika ada tambahan lagi, fasilitas kesehatan tak akan mencukupi.

Kekhawatiran ketika virus corona ini masuk ke lingkungan sekolah dan pesantren sebenarnya sudah lama. Atas dasar itulah, sekolah masih diliburkan hingga saat ini sejak pertengahan Maret lalu.

Kondisi ini yang kita hindari. Di bulan-bulan awal virus corona mulai menyebar, kita banyak disuguhi berita-berita mengerikan dari berbagai belahan dunia mengenai penuhnya fasilitas kesehatan akibat lonjakan pasien Covid-19.

Beberapa negara maju seperti Italia, sempat kewalahan menangani lonjakan pasien Covid. Tak punya cukup ruang, rumah sakit di kota itu terpaksa menggunakan tenda yang dipasang di pelataran parkir untuk menangani pasien Covid. Kondisi serupa juga kita lihat di China, untuk melayani pasien yang jumlahnya terus bertambah, China bahkan membangun rumah sakit dalam hitungan hari.

Dengan perbandingan jumlah rumah sakit dan jumlah penduduknya, Indonesia termasuk rentan mengalami situasi seperti itu. Bersyukur hingga hari ini, berita-berita mengenai rumah sakit yang tak mampu menampung jumlah pasien masih belum kita dengar. Namun bukan berarti itu tak mungkin terjadi.

Setidaknya peristiwa di Banyumas memberi pelajaran, bagaimana virus ini bisa menyebar dengan cepat dalam satu lingkungan pesantren. Di dalam pesantren intensitas persinggungan antar-penghuni memang cukup tinggi.

Jika tak segera ditangani dengan baik, tak tertampungnya pasien karena kurangnya jumlah fasilitas kesehatan bisa terjadi. Ibarat sebuah mobil, inilah saatnya rem benar-benar difungsikan, peristiwa di Banyumas sudah memberikan peringatan nyata bahwa bahaya virus corona masih terus mengintai jika kita tak waspada.

Sambil menunggu perkembangan vaksin, saatnya pemerintah makin serius mencari jalan agar penyebaran virus yang telah merepotkan seisi dunia sejak awal tahun ini bisa diperlambat. Namun apapun upaya pemerintah, tak berarti tanpa dukungan rakyatnya.

Seiring perubahan yang terus terjadi mengikuti perkembangan pola perilaku visur, regulasi yang dikeluarkan pemerintah juga terus berubah. Perlu kita sadari apapun perubahan itu, tujuannya adalah bagaimana mengatasi penyebaran sekaligus dampak lain dari virus corona. Jika kita ingin semua ini cepat berlalu, hanya satu yang bisa dilakukan, yakni bersama-sama mengikuti imbauan pemerintah. (*)

Penulis: erwin adrian
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved