Breaking News:

Opini

Desa Penjaga Pancasila

sudah selayaknya kita bersyukur mempunyai Pancasila sebagai rumah bersama yang menaungi seluruh anak bangsa

Penulis: -
Editor: moh anhar
Desa Penjaga Pancasila
TRIBUN JATENG
Opini Tribun Jateng, Kamis (01/01/2020)

Penulis: Marjono, Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng

  
AGENDA regular tahunan, setiap tahun setiap tanggal 1 Oktober selalu menggenapkan ingatan kolektif kita atas jasa para pahlawan sang penjaga Pancasila, dan sekaligus mengokohkan eksistensi Pancasila yang merupakan titik temu kebhinekaan dengan nilai-nilai yang digali dari bumi pertiwi. Karena itu sudah selayaknya kita bersyukur mempunyai Pancasila sebagai rumah bersama yang menaungi seluruh anak bangsa dengan keragaman asal usul agama, etnis dan golongan. Keragaman yang menjadi mozaik indah tenun kebangsaan.

Patut disadari, dalam sejarah kehadirannya Pancasila berkali-kali mengalami rongrongan, pendangkalan dan turbulensi dari barisan anti Pancasila. Tetapi berkali-kali pula parasit kebangsaan ini selalu dapat dilumpuhkan oleh Pancasila. Ini bukti Pancasila digdaya, Pancasila sakti dan teruji.

Di tengah kemurungan pandemi covid-19, kita juga dihadapkan pada realita praktik-praktik berbangsa dan bernegara yang masih seringkali memunggungi Pancasila. Korupsi, terorisme, radikalisme, intoleransi, ujaran kebencian, dan saling fitnah diantara anak-anak bangsa menunjukkan bahwa perilaku kita acap jauh dari nilai Pancasila. Artinya sikap toleransi, suka membantu, tenggang rasa, menghargai pendapat lain, adil, amanah, dan gotong royong serta nilai lain yang disarankan Pancasila ternyata juga belum sepenuhnya terbukti dalam aras sosial. Ini tantangan dan ancaman bagi bangsa kita yang ber-Pancasila.

Maka kemudian, momentum penting hari ini hendaknya mampu menumbuhkan kesadaran baru masyarakat untuk menjadikan Pancasila sebagai titik kembali (point back) jiwa dan semangat dalam perilaku harian kita, apa pun yang terkait dengan kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan bahkan beragama sehingga terdapat kesatuan antara cita dan fakta, das sollen dengan das sein.

Para founding father negeri ini yang talah menggali hingga melahirkan Pancasila bukan sekadar aksesori artificial, yang dipajang di dinding-dinding rumah yang bisu di bawah burung Garuda. Kita pun tidak perlu berselebrasi dan tak usah bertepuk dada mengklaim diri paling Pancasila atau Pancasilais, serta menjadikan trending topik Pancasila yang hanya ramai pada seputar hari lahir Pancasila dan hari kesaktian Pancasila belaka.

Yang perlu kita tunjukkan adalah bagaimana membangun jalan baru membumikan nilai-nilai Pancasila pada seluruh penjuru mata angin republik ini. Dari sisi rumusan diksi, Pancasila dengan kelima silanya, sudah selesai. Namun, sebagai ideologi yang terbuka, Pancasila menuntut pemaknaan baru yang aktual danpracticable. Karena Pancasila kaya dan sarat makna.

Kebahagiaan dan kebanggaan nyata, hari ini kita berhikmat memperingati Hari Kesaktian Pancasila, meski dengan keterbatasan dan tetap menerapkan protocol kesehatan pencegahan covid-19. Kita senang, terbit buku-buku, film, video, vlog-vlog dan literasi bahkan dialog dan diskusi tentang Pancasila. Ini menunjukkan masih ada gairah untuk terus merawat dan menghidupkan Pancasila. Jauh akan membuat makin bangga, ketika kita saling bergandeng tangan, bahu membahu, bersatu padu dan, gotong royong menuntaskan PR bangsa.

Hal ini seturut dan setarik nafas dengan tema hari Kesaktian Pancasila tahun ini, yakni "Indonesia Maju Berlandaskan Pancasila." Inilah jangkar moral kita. Apalagi Soekarno dan pendiri bangsa kita mencita-citakan kemerdekaan yang akan membawa kita menciptakan masyarakat yang adil dan makmur berdasar Pancasila.

Optimisme kita, spirit kita, mari terus bergerak, untuk peduli terhadap masa depan bangsa dan Negara, yang berarti memperhatikan hak dasar rakyat, bekerja keras, berjuang bersama membebaskan rakyat dari agresi covid-19, anti korupsi dan menjaga lingkungan di tengah ujian demokrasi dan kemajemukan. Kemajemukan itu ibarat lidi. Kalau hanya satu lidi maka menjadi lemah dan mudah hancur serta kurang bermanfaat. Tetapi ketika jadi ikatan sapu lidi, maka menjadi kuat, dan sangat bermanfaat.

Memetri

Bangsa besar yang bisa menghargai jasa pahlawannya. Bangsa besar ini tidak boleh kita biarkan tercerai berai karena ego atas identitas kelompok. Bangsa besar ini tidak boleh hancur karena dikotomi mayoritas minoritas, beda warna poilitik dan makin menipis rasa kebanggaan, kebangsaan, dan luruhnya persatuan kesatuan diantara kita. Bangsa ini sejatinya berdiri dan ada atas perjuangan seluruh kelompok yang berasal dari beragam suku, agama, ras dan golongan.

Semua harus merasa handarbeni. Kita kuatkan persatuan kesatuan, kerukunan, kebersamaan demi perwujudan keadilan sosial yang me-makmurkan dan mensejahterakan rakyat. Ibu Pertiwi dan desa-desa kita jauh akan bahagia, jika setiap waktu kita menghadirkan Pancasila di rumah, sekolah maupun tempat ibadah.

Ketika kita sudah bicara ke-Indonesia-an, maka kita lepas semua baju-baju kelompok kita, tanggalkan warna dan pilihan politik kita serta asal-usul kita. Semua harus menyatu dalam derap langkah Pancasila. Pancasila bagian dari sejarah kita yang penuh jerih payah. Pancasila itu penanda kehormatan dan harga diri bangsa. Mari genggam spirit Pancasila dalam praktik nyata sebagai panduan kebangsaan-keindonesiaan. Aneka ide segar, kreasi dan inovasi juga karya nyata kita selalu dinanti seluruh rakyat. Menjadi tekad kita bersama untuk terus berkontribusi konstruktif sebagai bagian dari solusi dalam memetri negeri ini, sehingga melempangkan jalan baru mewujudkan cita-cita Pancasila lebih berbunyi.

Namun, yang lebih penting dari itu semua bukanlah soal upacara hari Kesaktian Pancasila, melainkan bagaimana menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang tertuang dalam kelima sila Pancasila segera diwujudkan di bumi Pancasila. Dari pelosok desa sebagai benteng, penjaga Pancasila, mari kita jaga, rawat dan lindungi nasib bangsa ini agar urat nadi Pancasila terus dan selalu mengakar dalam detak gugusan desa-desa Indonesia. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved