Breaking News:

FOCUS

Mengapa Pancasila Sakti  

setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Mengapa Pancasila sakti?

Mengapa Pancasila Sakti   
TRIBUN JATENG
Opini Kamis 01/01/2020

Penulis: Iswidodo, wartawan Tribun Jateng

Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Tepatnya pada 1 Juni 1945 Soekarno berpidato tentang dasar negara yang dinamainya Pancasila. Kemudian setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Mengapa Pancasila sakti?

Karena mampu bertahan sebagai dasar negara ketika pengaruh komunis menggempurnya. Puncak dari gempuran masa itu adalah peristiwa G30S/PKI pada tanggal 30 September 1965. Beberapa jenderal terbunuh karena tidak setuju dengan paham komunis.

Tidak itu saja. Pancasila benar-benar sakti karena menjadi roh penguat negara ini meski banyak terpaan melanda Indonesia. Pengaruh itu bermacam-macam. Ada pengaruh radikalisme, terorisme, kekiri-kirian dan kekanan-kananan. Pancasila berada di tengah, tidak ke kiri dan tidak ke kanan. Memayungi semua golongan, suku, agama dan ras tanpa membedakannya.

Pancasila juga terbukti sakti sebagai dasar negara karena dia menjadi pondasi penting untuk merumuskan semua program dan cita-cita bangsa untuk jangka pendek, menengah maupun panjang. Pancasila menjiwai seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengikat masyarakat yang beragam berbhinneka dalam persatuan nasional. Maka sampai kapanpun Pancasila Sakti.

Melihat sejarah peristiwa tahun 1965, ada namanya operasi penculikan Dewan Jenderal. Pada Hari H, 30 September 1965, ada beberapa perwira tinggi militer yang menjadi target pembunuhan. Yaitu antara lain Jenderal AH Nasution, Letjen Ahmad Yani, Mayjen Soewondo Parman, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono, Brigjen Donald Izacus Pandjaitan, Brigjen Soetojo Siswomihardjo, dan Brigjen Ahmad Sukendro. AH Nasution dan Ahmad Sukendro selamat dari target penculikan itu.

Dan perlu diingat, setelah kejadian yang dikenal sebagai G30SPKI itu bukan berarti ujian terhadap kesaktian Pancasila selesai. Kita semualah yang membela Pancasila dari rong-rongan orang-orang yang ingin membawa ke arah kanan, maupun ke arah kiri.

Pancasila sebagai Dasar Negara maka nilai-nilai Pancasila menjadi pedoman bagi penyelenggaraan bernegara. Konsekuensi, seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan pemerintah negara Indonesia termasuk peraturan perundang-undangan merupakan pencerminan dari nilai-nilai Pancasila.

Penyelenggaraan bernegara mengacu dan memiliki tolok ukur, yaitu tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan. Dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 menegaskan bangsa Indonesia memiliki dasar dan pedoman dalam berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila.

Pertanyaan sederhana, bagaimana mewariskan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik di masa pandemi Covid-19 ini. Saat pelajar tidak ikut upacara bendera di sekolah. Apakah ada kewajiban anak-anak di rumah melafalkan sila-sila Pancasila tiap akan dimulai pelajaran secara daring?

Bagaimana mendidik budi pekerti kepada mereka, sementara jarang bertemu guru, dan orangtua sibuk bekerja. Siapa yang mengajarkan Pancasila kepada mereka? Adakah game dengan konten nilai-nilai Kegotong-royongan, Kesetiakawanan, Empati, Rela Berkorban dan mengutamakan kepentingan bersama? Yang ada adalah game ingin menang sendiri.

Maka sudah saatnya dipikirkan dan diimplementasikan bahwa movie atau film menjadi media pembelajaran. Pemerintah perlu hadir, yang dulu melalui buku-buku sekarang saatnya beralih melalui media film, video, yang penting bisa menyampaikan pesan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak. (*)

Penulis: iswidodo
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved