Breaking News:

OPINI

Mencari Identitas Kopi Muria

Narasi dan histori kopi di wilayah-wilayah Pegunungan Muria tidak pernah utuh. Setiap wilayah membangun keunikan masing-masing.

Mencari Identitas Kopi Muria
TRIBUN JATENG
opini tribun jateng 03/10/2020

Penulis: Imam Khanafi, Koordinator Komunitas Hutan Muria, Kudus

PENGGALAN narasi dan histori kopi di wilayah-wilayah Pegunungan Muria tidak pernah utuh. Setiap wilayah membangun keunikan masing-masing berbalut pengalaman dan eksperimen yang melengkapi budaya kopi. Muria berada di tiga kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara.

Kopi Muria yang pada lidah penulis penuh rasa, kopinya memiliki karakter komplek, beraroma rempah, dengan tingkat keasaman lembut hingga tinggi. Bahkan bisa dibilang melampaui cita rasa kopi pada umumnya. Semoga saya tidak berlebihan.

Sebelum tahun 1825 ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes Graaf Van Den Bosch (Van Den Bosh) menerapkan peraturan tanam paksa (kultuurstelsel) di seluruh Jawa yang bisa dibilang menandai era perkebunan di Muria, tidak satu pun referensi menulis tentang komoditas kopi di Muria ini.

Dan di tahun 1860 Van Den Bosh membagi seluruh hutan di Pulau Jawa dalam 13 bosdistrict atau daerah hutan. Saat itu kopi mewujud dalam aktivitas keseharian masyarakat di Muria sebagai minuman kehidupan seperti daerah-daerah lainnya.

Sekarang dalam tubuh kopi di Muria sedang mencair atau penelusuran identitas Kopi Muria itu sendiri. Dalam catatan penulis, pada 2019 sebagai contoh di Desa Colo ada beberapa UMKM yang mengolah Kopi Muria, sebut saja Kopi Muria Wilhemina, Kopi Muria Tasty, Kopi Muria Otentik, Kopi Muria Yousuka, Kopi Muria Centheng, Kopi Muria Itheng, Kopi Muria Ndaoleng, Kopi Muria Zayna, Kopi Muria Dunaco, Kopi Muria Tjolo, dan masih ada beberapa lagi yang mengelola kopi kemasan buat dipasarkan di industri perkopian Indonesia, baik secara langsung kepada pembali atau secara online.

Hal tersebut di atas juga di alami daerah lain di wilayah Pegunungan Muria, seperti di Desa Tempur, Jepara juga memiliki banyak sekali kemasan kopi dengan menyebutkan dalam label Kopi Muria. Tak hanya Colo dan Tempur daerah lain juga mempunyai merek dan brand sendiri dengan menyebukan Kopi Muria.

Melihat itu semua kopi di kenal masyarakat Muria sejak praktik kapital kolonial dengan keragaman jenis kopi. Masyarakat yang menghidupi tanaman kopi hingga menjelma menjadi komoditas bernilai tinggi adalah narasi yang disusun sebagai argumentasi percabangan arus budaya itu sendiri yang perlahan menjelma menjadi identitas.

Ruang budaya kopi Muria menyisakan beragam ruang representasi atas identitas Muria sendiri. Dalam konteks perlintasan subjek di dalamnya, narasi kopi Muria bergerak melalui cita rasa baru dalam pemosisian dan negosiasi konstuksi kopi yang muncul sebagai imej kopi Muria.

Cerita tentang pekerja petani kopi yang disiplin dan petani kopi rakyat yang tengah berjuang melalui kopi organik mewarnai gagasan subjek yang terlupakan dalam penikmatan secangkir kopi. Adat/ritual yang dimeriahkan kopi turut membentuk ide penerimaan kopi sebagai minuman kehidupan yang memengaruhi nilai kultural dalam masyarakat Muria itu sendiri, salah satunya adalah acara Wiwit Kopi yang dilakukan setiap tahunnya di Desa Colo.

Halaman
12
Penulis: -
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved