Breaking News:

SMART WOMEN

Mbak Ita Gencarkan Urban Farming di Lahan Terbatas

Hijaunya rumah hunian Mbak Ita ini tak lepas dari hobinya. Ia mengupayakan sisa-sisa ruang di rumah pribadinya menjadi layaknya ladang sayuran.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Hevearita Gunaryanti, Wakil Wali Kota Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rindang dan sejuk adalah kesan pertama saat mengunjungi rumah Mbak Ita, sapaan akrab Wakil Wali Kota Semarang. Di bawah terik sinar matahari yang begitu menyengat, sudah pasti rumah tersebut bak oase di tengah gurun. Rumahnya tak ada bedanya dengan kebun sayuran. Hevearita Gunaryanti Rahayu adalah nama lengkap pemilik rumah yang berlokasi Jl Bukit Duta No. 12 RT 8/RW 4, Sumurbroto, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang itu.

Hijaunya rumah hunian Mbak Ita ini tak lepas dari hobinya sehari-hari. Ia mengupayakan sisa-sisa ruang di rumah pribadinya menjadi layaknya ladang sayuran.

Dengan lahan tersisa seperti rumah-rumah di komplek perkotaan pada umumnya, perempuan berusia 54 tahun ini mampu menanam berbagai sayuran dan buah-buahan. Mulai dari cabai, terong, paprika, bayam, kangkung, sawi, stroberi, hingga jeruk. Bahkan, ia pun masih bisa membudidaya ternak lele di rumahnya.

"Ya namanya urban farming. Itu konsep berkebun di daerah perkotaan dengan lahan amat terbatas. Cocok buat segala jenis rumah di daerah perkotaan, seperti di Semarang ini. Beragam media yang saya pakai antara lain, hidroponik, tanah, pot, dan akuaponik. Ini benar-benar tak butuh lahan yang luas. Cukup pakai ruangan yang tersisa saja," ujar Ita, saat ditemui Tribun Jateng di kediamannya, baru-baru ini.

Hobi Ita memang belum lama ditekuninya. Adanya pandemi Covid-19, aktivitasnya sebagai pejabat publik mengharuskan lebih sering di rumah atau work from home (WFH), Ita mencoba menggerakan urban farming. Ia memilih urban farming karena teringat pesan dari Ibu Megawati Soekarno Putri. Pesan itu ditujukan kepada semua kader supaya mulai menanam sayuran pendamping padi atau beras.

Ita sangat yakin dengan kegiatannya ini, mengingat latar belakangnya dulu sempat kuliah pertanian di Yogyakarta. Namun, Ita sebenarnya mengawali gerakan urban farming ini hanya sebatas mengajak saja. Lalu, ia bertemu dengan segelintir warga Semarang yang menjadi bagian Kelompok Tani Perkotaan. Dirasa kurang, akhirnya Ita ikut terlibat juga membuat urban farming di sisa-sisa ruang rumah kediamannya. Hal itu dilakukan agar Ita bisa memberi contoh banyak orang.

"Jadi, ga sebatas mengajak doang ke masyarakat. Aku mulailah urban farming biar gerakannya konkret, nyata, dan ada wujudnya yang bisa dicontoh. Ya lumayan, ini sudah jalan beberapa bulan. Rumah saya jadi sering kedatangan orang buat belajar urban farming sekarang. Dengan lahan sangat terbatas, sebenarnya kita bisa menumbuhkan beragam sayuran dan buah-buahan. Bagi anak kos-kosan pun bisa," katanya.

Aktivitasnya ini lambat laun menjadi hobi baru Ita. Ia merasa hobinya tersebut sama sekali tidak mengganggu tanggung jawabnya sebagai orang nomor 2 di Kota Semarang. Bahkan bisa dibilang, berkebun semacam menyuntik motivasi ia memulai pekerjaan.

Tiap pagi sebelum kerja dan sore selepas tugas sering diluangkan Ita untuk merawat kebun. Sesekali Ita memetik apabila ada sayuran atau buah yang matang. Sejumlah hasil tani yang dipamerkan Ita di akun instagramnya, @mbakitasmg pun membuat banyak orang tertarik main ke rumahnya untuk belajar. Seiring berjalannya waktu, minat warga belajar urban farming ke rumahnya kian meluas.

Warga dari beragam kecamatan di Kota Semarang pun datang. Tak sedikit dari mereka datang hanya untuk sekedar melihat rumah asri nan rindang milik Ita. Melihat minat warga yang sangat antusias, akhirnya Ita menginisiasi sekolah berkebun. Sekolah itu dinamai Berkebun Hebat. Kata Ita, Sekolah Berkebun Hebat ini baru berjalan, namun animonya sangat tinggi.

"Baru berjalan beberapa minggu. Ini pelatihan gratis. Banyak yang minat gara-gara saya sering posting di IG. Sekolah ini pertemuannya ada empat sesi dalam seminggu. Tiap Selasa pagi dan sore. Lalu Kamis pagi dan sore. Ada banyak pelatihan yang bisa dipelajari. Kita bisa ikut dengan mendaftar online di berkebunhebat.id," jelas Ita.

Dia bilang, satu orang bisa mendaftar satu sesi pertemuan atau lebih. Namun sayangnya, kata Ita, pelatihannya itu sudah penuh pendaftar sampai Desember 2020. Seperti diketahui, tiap sesi di Sekolah Berkebun Hebat berisikan hanya 15 orang, mengingat pentingnya menjaga protokol kesehatan.

"Dan itu semua sudah full booked sampai Desember. Awalnya, kita mau tiap sesi ada 25 orang. Tapi karena ada protokol kesehatan, kita kurangi jadi 15 orang saja. Animonya memang tinggi. Bahkan banyak orang dari Gunungpati dan Pedurungan rela belajar sampai sini (rumah)," papar perempuan yang pernah dianugrahi Satyalencana Pembangunan oleh Presiden RI, Joko Widodo pada 2019 lalu ini. (gum)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved