Breaking News:

Fokus: Tak Ada yang Abadi

Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan sejak 25 September 2020 padam total.

Penulis: m nur huda | Editor: Vito
Grafis:Tribunjateng/Bram Kusuma
Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda 

Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda

 
“Tak Ada yang Abadi” judul lagu karya Grup Band Peterpan/NOAH itu seolah mempertegas adanya peristiwa alam yang menghebohkan publik.

Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan sejak 25 September 2020 padam total.

Api mulai mengecil selama sepekan sebelum padam. Petugas berusaha membongkarnya dan saat itu aroma khas gas serta suara gemuruh dari dalam tanah masih terdengar.

Setelah padam, petugas sempat membiarkan lima hari dengan harapan api abadi itu akan berkobar lagi. Namun hingga Jumat Wage, 25 September 2020, api padam total. Jangankan api, aroma gas dari pipa saja sudah tidak ada.

Menurut Dinas ESDM Jateng, ketiadaan suplai gas diduga jadi penyebab.Hilangnya gas didugaterkait pengeboransumur sedalam 30 meter di minimarket yang berjarak sekira 150 meter dari lokasi beberapa pekan sebelumnya.

Saat pengeboran, munculsemburan gas bercampur air (kini telah ditutup koral). Diduga gas sumber Api Abadi Mrapen beralih ke lubang baru ini.

Selain itu, banyak warga pada radius 50 meter dari api alam itu memanfaatkan sumber gas. Ini berdampak pada penambahan jumlah distribusi gas hingga menambah sebaran yang semula hanya satu titik telah terdistribusi ke banyak titik.

Dalam catatan sejarah, Api Abadi Mrapen selalu menjadi sumber nyala api oborsejumlah gelaran nasional maupun internasional. Pada1 November 1963, digunakan untuk menyalakan obor pesta olahraga Ganefo yang diikuti 2.700 atlet dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.

Pada 23 Agustus 1966 untuk menyalakan obor Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII. Terbaru, satu oborAsian Games 2018 juga diambil dari sini oleh Puan Maharani pada 18 Juli 2018 yang saat itu menjabatMenko PMK.

Api Abadi Mrapenselama bertahun-tahun juga digunakan untuk menyalakan obor guna ritual Tri Suci Waisak umat Budha di Candi Borobudur.

Sebenarnya, ini bukan kali pertamaApiAbadiMrapenpadam.Dalam catatan, api mengecilsejak Februari 1996hingga padamakhir Maret 1996,meskitetap mengeluarkan uap panas. Beberapa saat sekitar 75cmdari titik api sebelumnya,ditemukan sumber api baru yang menyala lebih besar. Namun sejak itu, api kian meredup.

Awal munculnyaapi, kononsaatSunan Kalijagasinggah di kawasan ini, yaknimasa runtuhnya Kerajaan Majapahit dan awal Kasultanan Demaktahun 1447,menancapkan tongkat kemudiansaat dicabutmuncul api.

Api itu digunakan Empu Supo untuk membuat benda pusaka Kasultanan Demak. Disebut api abadi karena sejak itu tak pernah padam.

Terlepas dari kisah tersebut, padamnya Api Abadi Mrapen secara total sungguh sangat disayangkan. Ini merupakan pelajaran penting bagi semuanya bahwa kelestarian alam membutuhkan kepedulian manusia yang hidup di sekitarnya. Tidak mungkin alam ini dapat lestari, karena di dunia ini tak ada yang abadi.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved