Breaking News:

7 Jurnalis Jadi Korban saat Liput Aksi: Dipukul, Diseret, dan Ditahan

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat setidaknya ada 7 orang jurnalis yang menjadi korban kekerasan polisi saat meliput aksi unjuk rasa pada Kami

Editor: rustam aji
KOMPAS.COM/BUDIYANTO
Aksi demonstrasi menolak Omnibus Law dihadang polisi saat menuju Gedung DPRD di persimpangan Dago Jalan RE Martadinata, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (7/10/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -  Sejumlah jurnalis menjadi korban kekerasan polisi saat meliput demo menolak Undang-Undang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja), Kamis (8/10) lalu. Bukan hanya diintimidasi, para jurnalis itu bahkan juga ada yang dipukul dan ditangkap.

 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat setidaknya ada 7 orang jurnalis yang menjadi korban kekerasan polisi saat meliput aksi unjuk rasa pada Kamis lalu. ”Jumlah ini bisa bertambah, kami masih menelusuri dan memverifikasi,” kata Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/10).

Jurnalis yang diduga menjadi korban kekerasan salah satunya adalah Tohirin dari CNNIndonesia.com. Ia mengaku dipukul dan ponselnya dihancurkan. Tohirin menerima perlakuan itu ketika meliput demonstran yang ditangkap polisi di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat.

 Kejadian itu bermula sekitar pukul 20.47 WIB. Saat itu aparat mulai memukul mundur massa aksi yang sebelumnya menguasai Simpang Harmoni. Aparat berkali-kali menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Melihat kondisi itu, Thohirin berinisiatif merekam peristiwa tersebut. Dia berdiri di belakang barikade polisi. Tidak ada wartawan lain yang mendampinginya ketika itu. "Saya merasa aman karena saya berada di belakang polisi," kata Thohirin.

Beberapa saat kemudian, Thohirin melihat aparat menangkap 3-5 orang peserta aksi yang yang diduga sebagai perusuh. Thohirin melihat mereka dipukuli polisi. Bahkan salah satunya pingsan. "Saya melihat kejadian itu. Polisi yang melihat saya langsung menghampiri. Saya ditanya apakah mengambil gambar atau video. Saya bilang tidak," kata Thohirin.

Namun polisi tidak percaya. Mereka memaksa Thohirin mengeluarkan ponsel dan memintanya membuka galeri. Thohirin pun terpaksa mengikuti permintaan tersebut. "Satu-satunya yang bikin mereka jengkel, setelah membuka Hp, mereka melihat gambar saat aparat memiting massa aksi yang ditangkap," ujar Thohirin.

Polisi marah melihat foto tersebut dan menuduh Thohirin seenaknya mengambil gambar. Namun Thohirin merasa tak ada yang salah dengan pengambilan gambar tersebut lantaran memang tugasnya sebagai jurnalis. "Setelah itu Hp saya diambil. Saya diinterogasi, dimarahi. Beberapa kali kepala saya dipukul. Untung saya pakai helm," ujar Thohirin.

Salah seorang polisi mengancam akan membanting ponsel Thohirin. "Kamu percaya enggak Hp kamu bisa saya banting," kata polisi seperti ditirukan Thohirin.

Thohirin sempat memohon agar alat kerjanya tersebut tidak diruasak. Namun anggota polisi lainnya memprovokasi untuk membanting ponsel. Seketika itu ponsel Thohirin dibanting. "Saya pasrah, tak sempat berpikir apa-apa lagi. Hp saya tinggal. Saya tidak kepikiran menjadikan itu barang bukti, lagipula kalau saya ambil itu Hp, saya bisa jadi akan lebih menerima intimidasi," ujarnya.

Setelah menerima intimidasi itu, Thohirin pergi dan mencari rekannya. Dia juga mengabari tim redaksi di kantor untuk mendapatkan bantuan.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved