Breaking News:

Berita Kudus

Edi Sulap Limbah Kertas Rokok Jadi Boneka Li‎lit Bernilai Jual Tinggi

Limbah kertas rokok yang tadinya menjadi barang yang tidak berguna, di tangan Edi Purwanto (42), Koordinator Jurang Kreatif menyulapnya menjadi keraji

TRIBUN JATENG/RAKA F PUJANGGA
Edi Purwanto (42), Koordinator Jurang Kreatif 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Limbah kertas rokok yang tadinya menjadi barang yang tidak berguna, di tangan Edi Purwanto (42), Koordinator Jurang Kreatif menyulapnya menjadi kerajinan yang bernilai jual tinggi.

Edi mengubah kertas pembungkus filter rokok yang dilinting hingga menjadi sebuah tali.

Kemudian tali itu dibungkus pada kerangka kawat sehingga bisa berbentuk menyerupai boneka.

Ayah Tak Mau Mobil Rusak Didobrak, Bayi yang Terjebak Akhirnya Meninggal Kepanasan

Viral Mantan Selingkuhan Anggota DPR Tolak Omnibus Law dan Ancam Bongkar pada Istri Sah

Skandal Perselingkuhan Kades dan Bidan Desa di Kudus Berbuntut Panjang

Said Iqbal Presiden KSPI Putuskan Mulai Jumat Besok Buruh Tak Lagi Lakukan Aksi Tolak UU Cipta Kerja

"Karena rangkanya dari kawat, jadi boneka lilit atau bolit itu bisa diubah bentuknya beragam," jelas Warga Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Selasa (6/10/2020).

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Jurang‎ tersebut memulai kerajinan itu sejak 2017 lalu.

Awalnya tali itu dipakai untuk menjadi pegangan tas kertas yang biasanya dipakai untuk pembungkus souvenir.

Namun berkat kreatifitasnya, dia mengolah‎ tali tersebut menjadi kerajinan tangan yang menarik.

"Dalam sehari pesanannya rata-rata 15 buah per harinya. Harganya mulai dari Rp 7 ribu sampai Rp 300 ribu tergantung ukuran dan tingkat kesulitan," ujar dia.

Sedangkan untuk souvenir pernikahan, harga jualnya dibanderol lebih rendah sebesar Rp 3.500 per buah.

"Karena untuk souvenir ukurannya kecil dan jumlahnya juga besar," kata dia.

Boneka terbesar yang pernah dibuatnya mencapai tinggi 140 sentimeter (cm), yang dijadikan pajangan di depan pintu masuk sebuah kegiatan.

Sayangnya, kata dia, boneka tersebut hilang dicuri orang setelah kegiatan tersebut selesai digelar.

"Boneka lilit saya yang terbesar itu dulu pernah hilang. Saya cari nggak ketemu lagi sampai sekarang," ucapnya.

Kendati demikian, Edi masih tetap terus eksis berkarya dan menghasilkan beragam boneka lilit tersebut.

Setiap karyanya, kata dia, memiliki cerita dibaliknya seperti gotong royong dan lain sebagainya.

"Boneka saja itu harganya murah, tapi kalau ada konsep cerita bonekanya itu lebih mahal," jelas dia.

Tak heran, jika boneka-boneka lilit dari limbah rokok itu juga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara.

Dia sengaja memilih lokasi pemasaran di kawasan Candi Borobudur dibantu seorang teman di sana.

"Saya diminta untuk menyuplai barang-barang kerajinan dari boneka lilit ke Magelang karena pasarnya sesuai," imbuhnya.

Menurutnya, banyak ekspatriat yang menyukai produk kerajinan tersebut. Bahkan produknya sudah sampai ke negeri sakura.

"Paling jauh barangnya ini sudah saya kirim sampai ke Jepang," ujar dia.

Permintaan yang semakin tinggi membuatnya harus memiliki mesin khusus untuk melinting kertas yang semula berbentuk lembaran menjadi seutas tali.

Mesin tersebut dibuatnya secara lokal di Surabaya dengan modal hanya sekitar Rp 36 juta.

Jauh lebih murah dibandingkan mesin buatan luar negeri yang bisa mencapai Rp 60 juta per unitnya.

"Saya buat mesin ini lokal, jadi kertas yang masuk sudah bisa keluar langsung jadi tali," jelas dia.

‎Sayangnya, harga bahan baku limbah kertas yang dijual pabrik mengalami peningkatan hingga 50 persen.

"Semula hanya Rp 6.000 per kilogram, saat ini bisa menyentuh Rp 9.000 per kilogram. Harga kertasnya naik," ujar dia.

Sebagai industri kecil, dia pun tak sanggup jika harus memborong bahan baku dalam jumlah besar.

Dia biasanya hanya menyiapkan bahan baku satu hingga dua kwintal saja untuk memenuhi kebutuhannya.

"Kalau langsung beli dari pabrik kntraknya besar sampai ratusan juta. Biasanya saya ikut teman beli satu atau dua kwintal nanti kurang beli lagi," ujarnya.

Hal itu karena permintaan terhadap barang kerajinan di tengah pandemi merosot tajam. Stok bahan baku kertas rokok itu pun masih cukup memadai di rumahnya.

"Sekarang pembuatan kerajinan ini menyesuaikan pesanan saja‎," ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Hilmi Nizar Zulmi (11)‎, yang tertarik dengan boneka lilit ikut membantu mengerjakan di sana.

Menurutnya, membuat boneka lilit itu bisa mengisi aktivitasnya yang saat ini masih belajar secara daring.

"Jenuh di rumah terus, selain sekolah daring. Bisa ikut belajar membuat boneka lilit di sini," jelas siswa kelas VII Mts Ibtidaul Falah.

Hilmi mengatakan, sudah belajar membuat boneka lilit itu sejak 2019 yang lalu sampai sekarang.

Proses pembuatannya juga terbilang cukup mudah, dengan melilitkan tali dari atas kepala, badan, tangan dan kakinya.

"‎Buatnya mudah, dari kepala dulu sampai ke kaki. Kemudian dilem biar nggak lepas," katanya. (raf)

Rumah Belajar Batik Semarang Beri Edukasi dan Bagikan Masker di Panti Asuhan Daruh Hadlonah

Video Paguyuban Team Towing Nusantara Samakan Visi-Misi Anggota

4 SMP Negeri di Rembang Lakukan Simulasi Pembelajaran Tatap Muka

Polres Semarang Maksimalkan Peran Bhabinkamtibmas Percepat Penanganan Covid-19

Penulis: raka f pujangga
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved