Breaking News:

Resensi Buku

Catatan Masa Kecil Seorang Wartawan

Kenangan tentang memori masa kecil tersaji secara epik nan bijak dalam buku bertajuk Semasa Kecil di Kampung, garapan Muhammad Radjab.

Penulis: - | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Cover buku Semasa Kecil di Kampung 

Peresensi: Oscar Maulana, Mahasiswa IAIN Surakarta.

KENANGAN masa kecil memberi warna dan cerita. Ingatan perihal permainan, petualangan dan bersuka ria, tanpa harus memikirkan beban dan perkara hidup yang entah akan menimpanya dikemudian hari. Kesenangan dan keceriaan semasa kecil terekam gamblang dalam sketsa kehidupan setiap diri mansia.

Kenangan tentang memori masa kecil tersaji secara epik nan bijak dalam buku bertajuk Semasa Kecil di Kampung, garapan Muhammad Radjab. Buku ini pertama kali di terbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1950. Menarasikan keluguan seorang bocah bernama Muhamad Radjab—dipanggil Rijal— yang kelak menjadi seorang jurnalis dan penerjemah ampuh.

Dilahirkan di Sumpur, Padang Panjang, Radjab mengawali perlawatan hidupannya. Bagi sebagian orang, nama Muhamad Radjab kurang mendapat sorotan dan perhatian di dunia jurnalistik (pers) jika di sejajarkan dengan Rosihan Anwar (1922), BM Diah (1917) maupun Tirto Adhi Soerjo (1880). Dalam buku ini, Radjab mengajak kita bernostalgia dan menerawang jauh perjalanan semasa kecilnya.

Pada bab-bab awal, kita didongengkan Radjab perihal keindahan alam tanah Sumatera Barat. Dongengan mendemokan khayalan dan keasrian tanak kelahirannya, seperti lembah yang menghijau dan diantaranya ada dua jajar bukit barisan, yang membujur dari utara ke selatan, dan ditengahnya mengalir sungai Batang Sumpur (halaman 2).

Pendidikan dan Kritisisme

Proses pendidikan Radjab kecil di tempuh di lembaga pendidikan pesantren. Di gembleng lewat kultur budaya pendidikan keagamaan yang kental. Masa-masa mondok di pesantren, bagi Radjab membuatnya (sedikit) jemu, bosan dan kehilangan waktu bermain bersama teman-temannya di rumah. Mengaji berjam-jam dengan melahap delapan kitab, setiap malam sampai larut malam dilaluinya selama menempuh pendidikan di pesantren (halaman 98). Buah keterampilannya selama mengaji di pesantren, yaitu kekritisannya dalam berargumentasi tentang perkara keislaman.

Buku ini, tidak hanya menyoal perangai bocah kecil belaka. Di dalamnya tersirat pesan penting perihal tradisi, budaya, sejarah, pendidikan dan agama di tataran Minangkabau masa lampau. Dataran tinggi dan aliran sungai di Minang, menyimpan pelbagai macam peradaban panjang yang kemudian membentuk suatu entitas yang luhur.

Cerita-cerita kebudayaan pun tak luput dari sorotan Rajab dalam buku ini. Pokok kebudayaan Minang di tulis dengan rasa bangga dan kejenakaan. Pembaca patut mengerti manakala Radjab sedikit sinis, terhadap suatu adat yang hanya dipisah oleh bukit tempat tinggalnya itu. Baginya adat ditempat itu dianggap mudzir dan memboroskan uang belaka tanpa faedah yang berarti. Seperti menyalakan mercon semalam suntuk hanya untuk beradu gengsi kekayaan dan keglamoran (halaman 186).

Pada dasarnya tuturan tokoh kondang semacam Radjab memberi warna dan nuansa nostalgia. Ingatan perihal masa silam, menuliskan latar belakang pendidikan, budaya, adat, dan sejarah. Buku ini pada dasarnya menyuguhkan tentang proses terbentuknya adat-adat Minang yang panjang. Muhamad Radjab, di besarkan oleh lingkungan yang punya rentetan sejarah panjang pula. Buku ini penting. Di tulis dengan gaya khasnya, yaitu jurnalistik. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved