Breaking News:

FOCUS

Pelajar Berdemo

Pelajar turut turun ke jalan ikut berdemonstrasi menolak omnibus law mau apa?

Penulis: moh anhar | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
FOKUS Tribun Jateng 13-10-2020 

Penulis: Moh Anhar, wartawan Tribun Jateng

PELAJAR turut turun ke jalan ikut berdemonstrasi menolak omnibus law mau apa? Tanpa bermaksud merendahkan posisi mereka di usia yang masih muda, harus diakui, banyak yang menyangsikan tujuan keterlibatan dalam aksi. Terlebih aksi demonstrasi tuntutan terhadap UU Cipta Kerja, pada pekan lalu, di sejumlah kota, berbuntut kerusuhan, termasuk di Semarang.

Polisi menyebutkan, saat sweeping diketahui, ada puluhan pelajar SMA-SMK, bahkan ada yang masih SMP. Ditengarai, keterlibatan mereka dalam aksi demonstrasi ini karena ajakan melalui pesan berantai di grup WhatsApp.

Tak berhenti di sini, Senin (12/10) kemarin, lagi. Kali ini di Solo. Polisi mengamankan 73 pelajar yang akan mengikuti aksi menolak Omnibus Law di depan Balai Kota. Mereka diamankan ketika sedang memakirkan sepeda motor. Saat ditanya, motif mengikuti aksi karena diajak oleh teman.

Ada apakah dengan para pelajar ini? Saat ini, di kala pandemi covid-19, pelajar mengikuti proses pembelajaran secara daring dari rumah masing-masing. Pembelajaran tanpa bertatap muka ini, nyatanya tak menyurutkan para pelajar untuk beramai-ramai turun ke jalan.

Akses informasi yang cepat dari grup Whatsapp menjadi penggerak mobilisasi mereka. Sayangnya, akses informasi yang cepat ini tidak dibarengi dengan pemahaman yang utuh mengenai tuntutan demonstrasi penolakan omnibus law.

Baca juga: Ekstrakurikuler di Masa Pandemi

Baca juga: Kadin Jateng Siapkan Program Digitalisasi Bagi UMKM

"Ikut-ikutan teman" menjadi dalih yang dikemukakan pelajar saat dimintai keterangan polisi. Ini tidak bisa dibenarkan. Pasalnya, aksi demonstrasi tak ada jaminan aman, bahkan rentan terjadi kerusuhan.
Dikhawatirkan, mereka bisa turut terseret dalam aksi kerusuhan, atau malah ternyata menjadi pelaku kerusuhan itu sendiri. Dalam segerombolan massa bisa saja dimanfaatkan untuk berbuat rusuh. Hal ini berarti sudah keluar dari tujuan aksi tuntutan demo ini.

Sebagai negeri yang menganut demokrasi, kebebasan berpendapat haruslah dihargai. Siapapun mereka yang berpendapat, tanpa memandang latar belakang status sosial, gender, termasuk usia. Hanya saja, mengemukakan pendapat ini ada aturan dan etika. Etika bagaimana pendapat dikemukakan, bagaimana ketika masing-masing pendapat tidak ada titik temu, hingga bagaimana ketika menolak sebuah pendapat.

Pelajar sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah tentu didambakan untuk bisa menjadi pemimpin di kemudian hari kelak. Kalaupun tidak bisa menjadi pemimpin, setidaknya memiliki karakter kepemimpinan. Karenanya, pelajar diharapkan pula tidak hanya sebatas berkutat pada buku pelajaran, melainkan juga bisa peduli pada situasi lingkungan sosial.

Tidak bijak juga rasanya bila hanya memandang sebelah mata peranan pelajar dalam kehidupan bermasyarakat, atau dalam skala lebih besar lagi, bernegara.

Lalu pertanyaannya, apakah omnibus law termasuk hal mendesak yang juga harus diperjuangkan oleh kalangan pelajar, seperti halnya yang digaungkan kaum buruh dan mahasiswa.

Baca juga: Video Ganjar Telepon 3 Menteri Sampaikan Aspirasi Buruh

Baca juga: Cegah Keterlibatan Pelajar dalam Aksi Demo Berujung Ricuh, Anggota DPRD Jateng Usulkan Ini

Omnibus law UU Cipta Kerja, yang materinya setebal 1.035 halaman memang menuai kontroversi sejak awal kemunculannya. Kalangan buruh menilai mereka adalah pihak yang dirugikan dengan regulasi itu. Hingga kemarin, penolakan masih terus digaungkan.

Masukan-masukan dari segenap elemen masyarakat masih disampaikan agar UU Cipta ini benar-benar bermanfaat. Akses untuk mendapatkan draf final UU ini pun disebarluaskan.

Dengan cara ini, setiap elemen masyarakat bisa mengkritisi kebijakan pemerintah, termasuk pelajar kalau memang ikut menguliti materi ini. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved