Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Blora

75 Desa di Blora Alami Krisis Air Bersih, Tidak Separah yang Diprediksi

Krisis air bersih masih berlangsung di Kabupaten Blora. Sampai saat ini tercatat ada 75 desa yang sudah didroping air bersih oleh Badan Penanggulangan

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: m nur huda
Istimewa
BPBD Kabupaten Blora droping air bersih di sejumlah desa yang alami krisis air bersih. 

TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Krisis air bersih masih berlangsung di Kabupaten Blora. Sampai saat ini tercatat ada 75 desa yang sudah didroping air bersih oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora.

Kepala Pelaksana BPBD Blora, Hadi Praseno mengatakan, pihaknya telah melakukan droping sebanyak 750 tangki masing-masing tangki kapasitas 5.000 liter di 75 desa yang tersebar di tiga belas kecamatan.

"Yang belum mengajukan bantuan air bersih atau tidak terdampak kekeringan di Kecamatan Japah, Kradenan, dan Todanan," kata Hadi kepada Tribunjateng.com, Sabtu  (17/10/2020).

Baca juga: Disebut Arogan Oleh Menteri Olahraga Italia, Cristiano Ronaldo Serang Balik: Pembohong

Baca juga: Pendaki Ditemukan Tewas Seusai Unggah Foto di Tebing, Sempat Pisah dengan Teman

Baca juga: Perlihatkan Belahan Dada, PM Finlandia Sanna Marin Panen Kritik, Dinilai Terlalu Seksi

Baca juga: Bupati Bogor Ade Yasin Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja, Akan Kirim Surat Rekom Ke Jokowi

Jika sesuai dengan tanggap bencana musim kemarau, prediksi ada 170 desa di 14 kecamatan yang rawan terjadi krisis air bersih.

Namun karena saat ini kemarau basah, kata Hadi, jadi tingkat krisis air bersih tidak separah dengan yang telah diprediksi.

Hadi mengatakan, pada tahun ini pihaknya mengalokasikan anggaran sekitar Rp 400 juta untuk droping air bersih.

Anggaran sebanyak itu setara dengan 1.600 tangki untuk tanggap bencana krisis air bersih.

Sementara masa tanggap bencana krisis air bersih akan berlangsung sampai pada akhir November 2020.

"Kalau dari data yang kaki terima dari BMKG, khusus Blora memasuki musim hujan awal November 2020," ucap dia.

Sementara untuk menghadapi musim hujan, pihaknya baru akan menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah dinas demi memetakan daerah rawan serta persiapan mitigasinya.

Hadi mengatakan, pada musim hujan bencana yang biasa terjadi di Blora selain longsor adalah banjir.

"Kalau banjir biasanya di Blora banjir genangan.  Tapi belum hujan ini nanti, soalnya curah hujannya tinggi apakah ada banjir bandang atau tidak. Yang pasti kami harus tetap siaga," kata dia.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved