Breaking News:

Janji Irjen Napoleon: Kita Buka Semuanya Nanti

"Jadi saya kira, harus dibuka semuanya dan kita semua memang menginginkan kasus ini terang benderang, meskipun ada dugaan melibatkan polisi."

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Mantan Kadiv Hubungan Internasional Polri Irjen Pol Napoleon Bonaparte mengenakan baju tahanan saat pelimpahan tahap II kasus dugaan pencabutan red notice atas nama Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra di Kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (16/10/2020). Penyidik Bareskrim Polri melimpahkan tersangka dan barang bukti untuk tersangka Irjen Pol Napoleon Bonaparte, Brigjen Pol Prasetijo Utomo dan pengusaha Tommy Sumardi ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk segera disidangkan. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Anggota Komisi III DPR Wihadi Wiyanto mendukung Irjen Napoleon Bonaparte membongkar siapa saja yang terlibat dalam kasus Djoko Tjandra. Napoleon adalah tersangka kasus dugaan perkara penghapusan red notice Djoko Tjandra. Irjen Napoleon Bonaparte menegaskan, dirinya siap buka-bukaan siapa saja pihak terlibat dalam kasus ini.

"Jadi saya kira, harus dibuka semuanya dan kita semua memang menginginkan kasus ini terang benderang, meskipun ada dugaan melibatkan polisi," kata Wihadi, Sabtu (17/10).

Wihadi juga mengingatkan jenderal bintang dua itu, untuk membongkar kasus yang sedang dihadapi dengan tidak asal menyebut serta memfitnah."Saya kira dalam membongkar kasus ini tidak ada fitnah siapapun, sehingga masyarakat tahu siapa saja yang terlibat," ucap politikus Gerindra itu.

Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan telah selesai melakukan proses administrasi alat bukti dari para tersangka dalam perkara dugaan penghapusan red notice Djoko Tjandra. Salah satu tersangka, Irjen Napoleon Bonaparte, sempat menanggapi pertanyaan awak media yang mencecarnya terkait kesiapan menjalani sidang.

Napoleon menyebut akan ada waktu untuk membuka semua perkara ini."Ada waktunya, ada tanggal mainnya, kita buka semuanya nanti," kata Napoleon kepada wartawan.

Namun, Napoleon tidak menyebutkan maksud pernyataannya itu. Dia langsung masuk ke mobil tahanan. Kasus Irjen Napoleon sudah mulai tahap persidangan. Dalam kasus ini, ada empat tersangka yang ditetapkan oleh penyidik Bareskrim.

DjokoTjandra dan Tommy Sumardi berstatus sebagai tersangka dan diduga sebagai pemberi suap. Sementara Irjen Napoleon dan Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo diduga menerimasuap. Djoko Tjandra diduga mengucurkan dana untuk menghapus red notice atas namadirinya dari basis data interpol.

Pihak yang ditujukan untuk membantu proyek itu adalah Napoleon Bonaparte yang merupakan mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri dan membawahi Sekretaris NCB Interpol yang mengurus red notice.Tersangka Djoko Tjandra sekaligus merupakan terpidana kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali.Djoko sedang menjalani tahap persidangan untuk kasus surat jalanpalsu yang menjeratnya.

Kasus terhapusnya red notice Djoko Tjandra mulanya diketahui setelah buronan 11 tahun itu masuk ke Indonesia tanpa terdeteksi untuk mendaftarkan Peninjauan Kembalikasusnya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Belakangan diketahui nama Djokosudah terhapus dari red notice Interpol dan daftar cekal Direktorat Jenderal Imigrasi.Dalam perkembangan kasus ini, Napoleon sempat mengajukan gugatan praperadilan atas penetapan dirinya sebagai tersangka. Namun gugatan itu ditolak hakim.

Bahkan, dalam sidang praperadilan terungkap bahwa proyek pencabutan red notice itu telah disepakati memakan upah biaya sebesar Rp10 miliar. Kuasa hukum Irjen Napoleon, Santrawan Paparang sempat memprotes penahanankliennya. Ia menyebut tak ada perintah penahanan Napoleon untuk 20 hari ke depan mulai Rabu, 14 Oktober di Rutan Bareskrim Polri.

Irjen Napoleon memulai karir sebagai bagian dari interpol pada 2016. Pertama kali ia menjabat sebagai Kabagkonvinter Set NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri hingga menjadi ses NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri pada 2017.

Tiga tahun setelahnya, ia kemudian menjabat sebagai Kadiv Hubinter Polri menggantikan Irjen Pol (Purn) Saiful Maltha pada 3 Februari 2020.

Namun baru lima bulan menjabat, dia dimutasi karena diduga lalai mengawasi bawahannya hingga terbitnya penghapusan red notice Djoko Tjandra.  Sebagai Analis Kebijakan Utama Itwasum Polri terhitung sejak 17 Juli 2020. (tribun network/sen/ham)

Editor: rustam aji
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved