Breaking News:

Peringati Hari Pangan: Grow, Nourish, Sustain, Together

Peringatan hari Pangan Dunia tahun ini terasa istimewa, karena berlangsung di saat pandemi Covid-19 mewabah hampir di sebagian besar belahan dunia.

Editor: rustam aji
istimewa
Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PW Muhammadiyah Jawa Tengah, Khafid Sirotudin 

Sebenarnya para founding father bangsa kita telah secara cermat dan berkemajuan (futuristik) meletakkan fondasi negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, sebagai panduan dasar hidup berbangsa dan bernegara. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara konsensus dan persaksian kita bersama (Darul Ahdi wa Syahadah), untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia (Darul Salam). Tak terkecuali dalam upaya/usaha untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan warganya.

Setidaknya terdapat 3 (tiga) ayat dalam UUD 1945 yang seharusnya menjadi landasan bagi segenap anak bangsa, khususnya para penyelenggara negara dan pemerintah di negeri ini.
Pertama, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
Kedua, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
Ketiga, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sudahkah terwujud ketahanan pangan di negeri ini? Kapankah terwujud kemandirian dan kedaulatan pangan di Indonesia?

Semua akan kembali kepada kesadaran dan komitmen kita sebagai bangsa. Rakyat tentu sangat berharap kepada komitmen dan integritas dari para pemimpin negeri, penyelenggara negara dan aparatur pemerintahan yang memiliki kekuasaan untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagaimana termaksud di dalam nilai-nilai dasar negara Pancasila, serta tertulis secara jelas dan tegas di dalam pasal-pasal dan ayat-ayat UUD 1945.

Pesan Hari Pangan Dunia

Tema 'Grow, Nourish, Sustain, Together' hari Pangan Dunia tahun ini setidaknya ingin mengingatkan dan menyadarkan kita sebagai bangsa dan sebagai bagian dari masyarakat dunia betapa pentingnya empati soal pangan. Tanpa ketersediaan pangan yang cukup, aman, bergizi dan adil (seimbang) akan menjadi titik awal munculnya berbagai bencana sosial, perang dan matinya sebuah peradaban dan budaya manusia modern.

Ketersediaan pangan musti tumbuh dan berkembang (grow) meski saat pandemi mendera di sebagian besar wilayah dunia, termasuk Indonesia. Maka penghargaan, perhatian, kebijakan dan fasilitasi sarana prasarana produksi pangan bagi para petani, peternak, pekebun, petambak dan pembudidaya bahan pangan lain wajib diberikan oleh negara. Agar supaya para pahlawan pangan itu terjaga kesehatannya, terjaga semangatnya untuk terus berproduksi di tengah pandemi.

Ketercukupan pangan (juga air) bagi segenap warga suatu bangsa dan negara, terutama tersedianya pangan untuk rakyat miskin dan korban ekonomi pandemi (jobless/korban PHK/pengangguran) haruslah terpelihara (nourish). Jangan sampai kematian massal yang mengenaskan dikala pandemi terjadi, karena tiadanya akses pangan yang mudah, murah dan terjangkau oleh seluruh rakyat, sebagai akibat kelalaian para aparat pemerintahan dan pemimpin bangsa menunaikan kewajiban.

Tersedianya pangan yang aman, bergizi dan cukup bagi rakyat, akan mampu menopang dan menahan (sustain) ketahanan nasional suatu bangsa dan negara di saat pandemi. Kita tidak tahu kapan pandemi akan berakhir. Tetapi yang pasti akan muncul adalah terjadinya kerusuhan sosial, ketidakstabilan politik dan runtuhnya pemerintahan apabila sebagian besar rakyatnya kelaparan.
Pepatah Jawa mengatakan: "weteng ngelih pikiran lan iman bisa malih" (perut lapar membuat pikiran dan iman terkapar).

Tentu saja, dalam usaha mewujudkan kebutuhan pangan bagi suatu bangsa haruslah dilakukan secara berjamaah, berjamiyyah alias bersama-sama, gotong royong (together).

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved