Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Makam Raja-raja Mangkunegaran Astana Mangadeg Girilayu Karanganyar

Cuaca mendung disertai rintik hujan menambah kesejukan di sekitar Astana Mangadeg yang berada di Desa Girilayu Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar

Penulis: Agus Iswadi | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Berikut ini video Makam raja-raja Mangkunegaran Astana Mangadeg Girilayu Karanganyar.

Cuaca mendung disertai rintik hujan menambah kesejukan di sekitar Astana Mangadeg yang berada di Desa Girilayu Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar pada Jumat (16/10/2020).

Astana Mangadeg berada di ketinggian sekitar 750 Mdlp. Jarak antara pintu masuk dengan komplek makam sekitar 500 meter.

Di tempat tersebut bersemayam raja-raja Mangkunegaran mulai dari GKPAA Mangkunegaran I, Raden Mas Said atau dikenal dengan Pangeran Samber Nyawa serta Mangkunegaran II dan III berserta anak, istri dan kerabatnya.

Total ada 125 makam yang berada di Astana Mangadeg.

Astana Mangadeg kerap dikunjungi peziarah dari berbagai kota di antaranya Lampung, Palembang, Jakarta, serta wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Pengurus Astana Mangadeg, Suparno menyampaikan, Makam di Astana Mangadeg ada sejak tahun 1795. Selain bersemayam makam raja-raja Mangkunegaran, di Astana Mangadeg ada beberapa bangunan yang sarat akan makna bagi peziarah.

Di antaranya, Gapura Adirasa yang memiliki simbol naga serta Gapura Belah yang memiliki makna, orang itu kalau punya tujuan tidak boleh bimbang, yakin kepada yang Allah SWT.

"Naga itu kan berjalannya dlosor, orang diharapkan selalu rendah diri kepada siapa saja," katanya kepada Tribunjateng.com saat ditemui di kediamannya.

Selain itu ada pula Masjid Kiai Hasan Nuriman, Gapura Agung, dan Tugu Tri Dharma simbol falsafah Pangeran Samber Nyawa. Tugu Tri Dharma dibangun oleh Yayasan Mangadeg sebagai simbol perjuangan dari Pangeran Raden Mas Said.

"Falsafah perjuangan Raden Mas Said itu rumongso melu andarbeni (merasa memiliki), wajib melu anggondeli (ikut mempertahankan) dan mulat sarira angrasawani (instrospeksi)," ucap Parno sapaan akrabnya.

Dia menjelaskan, sejak adanya pandemi virus Covid-19, komplek Astana Mangadeg sempat ditutup untuk para peziarah pada Maret 2020 dan mulai dibuka kembali pada Juni 2020.

Pengurus Astana Mangadeg, Supriyanto menambahkan, jumlah peziarah pada September 2020, tercatat ada sekitar 3.000 orang. Sebelum adanya pandemi virus Covid-19, rata-rata sekitar 4.000 orang - 5.000 orang.

Jumlah peziarah paling banyak datang saat momen tertentu seperti saat malam jumat, hari libur dan bulan suro. Pengunjung diberikan batas waktu untuk ziarah mulai dari pukul 08.00 hingga 24.00.

"Tata cara ziarah masih menggunakan tradisi keraton. Sebelum masuk dipersilahkan untuk penghormatan dan di dalam makam berjalan jongkok. Tabur bunga tidak diperkenankan di atas pusara. Di depan pusara sudah disediakan tempat tabur bunga," jelasnya.

Peziarah asal Sragen, Arif Sadikin (48) rutin berziarah seminggu sekali.

"Sekedar ziarah, berdoa membaca tahlil dan meditasi. Datangnya setiap Jumat, Kalau nggak siang, ya malam Jumat," pungkasnya. (Ais).

TONTON JUGA DAN SUSBCRIBE : 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved