Breaking News:

Parenting

Komunikasi Orangtua-Anak Jadi Kunci Pembelajaran di Keluarga

Adanya komunikasi yang kurang lancar dengan orangtua, membuat anak menjadi lebih nyaman ketika berada di luar rumah.

TRIBUN JATENG
Ilustrasi orangtua memarahi anak MODEL: AYU (IBU) ,DINDA DAN ALMA (ANAK) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Jateng banyak menemukan permasalahan anak lebih patuh terhadap salah satu orangtua, dalam hal ini ibu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini muncul akibat ayah dianggap kurang andil dan dekat dengan sang anak.

"Ada beberapa ayah merasa perannya memang di luar rumah, yakni untuk bekerja," kata Anisa, salah satu konselor di Puspaga Jateng, Sabtu (18/10).

Dengan kondisi seperti ini, lanjut Nisa, anak merasa tidak nyaman jika berada di rumah. Adanya komunikasi yang kurang lancar dengan orangtua, membuat anak menjadi lebih nyaman ketika berada di luar rumah dan lebih cenderung terbuka kepada orang lain. Anak menjadi lebih dekat dengan teman-teman pergaulan, yang keberadaannya belum tentu bisa dikendalikan dan diawasi sepenuhnya oleh orang tua. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap perilaku anak.

Hal itu disampaikan Anisa ketika berbincang dalam live Instagram akun @puspaga.jateng bertema "Peran Orang Tua yang Diharapkan Anak".

Pembicara lainnya, Abdul Aziz, dosen Psikologi Unnes, menyoroti, perlunya membangun budaya keluarga.

"Misalnya, pendidikan kepada anak. Orangtua punya power kepada anak dan memiliki budaya yang telah disepakati oleh ayah-ibu.

Ada pembiasaan yang dibangun, misal setelah magrib, televisi dimatikan. Saya sering ditanya anak saya, kenapa keluarga tetangga sebelah boleh menghidupkan televisi. Inilah sebuah pembiasaan dalam keluarga," terang Aziz.

Meskipun terkesan otoritatif, orangtua harus membuat ruang yang lebih ke anak untuk sekadar mengobrol. Dia mengatakan ada beberapa yang beranggapan orangtua harus menjadi teman. Namun akhirnya anak tidak punya sosok orangtua sehingga butuh hal yang bersifat otoritatif.

Usia 0-3 tahun, dikatakan Aziz, anak akan dibanjiri pengalaman indera yang diterima anak dari orangtua sehingga rangsangan dari ayah dan ibu yang tidak pernah sepakat bisa menjadi masalah.

"Sebuah perkawinan ada konseling pranikah, mental dan jiwa. Orangtua butuh check up, setidaknya sebulan sekali, seperti membuat kesepakatan yang nyata untuk mendidik anak setiap bulan," katanya.

Setelah anak memasuki 3-6 tahun, mereka akan mulai memilah pengalaman-pengalaman yang dirinya terima dari orangtua dan sekelilingnya.

Aziz mengatakan, anak-anak akan menaruh kepercayaan terhadap orang, apabila orang tersebut berada pada ruang itu ketika anak melakukan suatu hal. Sehingga banyak anak yang lebih percaya pada guru dibandingkan orangtua karena anak merasa sangat bermakna ketika bersama guru.

Tantangan orangtua ialah menciptakan pengalaman-pengalaman kepada anak sehingga anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. 

"Ada paradigma yang salah, menganggap anak miniatur orang tua, padahal tidak sepenuhnya seperti itu. Orangtua harusnya memandang anak itu spesial, unik, berbeda dengan yang lain," katanya. (mahfira putri)

Penulis: Mahfira Putri Maulani
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved