Breaking News:

Kondisi Pasar Modal Indonesia Terus Membaik

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terpuruk di titik terendah pada Maret 2020 akibat pandemi covid-19, perlahan bangkit kembali.

ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Pekerja merapikan dokumen membelakangi layar informasi pergerakan harga saham pada layar elektronik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (18/9). kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terpuruk di titik terendah pada Maret 2020 akibat pandemi covid-19, perlahan bangkit kembali. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen menyebut, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terpuruk di titik terendah pada Maret 2020 akibat pandemi covid-19, perlahan bangkit kembali.

"Saat itu IHSH jatuh cukup dalam hingga ke level 3.937, tapi pada 19 Oktober 2020, IHSG sudah kembali menguat dan berada pada posisi 5.126 poin dengan market cap mencapai sekitar Rp 5.960 triliun," ujarnya, dalam video conference, Selasa (20/10).

Menurut dia, kondisi IHSG saat ini secara tahun kalender (year to date/ytd) masih lebih baik dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara (ASEAN) lain. Indeks Bursa Singapura, Filipina, dan Thailand sampai 19 Oktober 2020 secara ytd mengalami pelemahan lebih dalam dibandingkan dengan di BEI.

Secara rinci, Hoesen menuturkan, Indeks Bursa Singapura mengalami penurunan sebesar 21,06 persen, Indeks Bursa Filipina 22,98 persen, dan Indeks Bursa Thailand 23,41 persen."Sementara, IHSG mengalami penurunan sebesar 18,62 persen," jelasnya.

Hingga kini, dia menambahkan, jumlah investor pasar modal terus meningkat. Sampai akhir September 2020, Hoesen mengatakan, jumlah investor pasar modal sudah menembus angka 3,23 juta.

"Total single investor identification (SID) per 25 September 2020 mencapai 3,23 juta, atau naik sebesar 30 persen dibandingkan dengan posisi akhirtahun lalu sebanyak 2,48 juta," paparnya.

Menurut dia, hal itu membuktikan kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia masih terus meningkat, meski di tengah pandemi covid-19. "OJK sangat menyadari bahwa dalam upaya mengurangi dampak pandemi covid-19 diperlukan respon kebijakan yang cepat dan tepat," ujarnya.

Selain itu, Hoesen berujar, hal itu juga diiringi dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan seluruh stakeholder, sehingga program pemulihan ekonomi nasional dapat berlangsung secara terarah dan efektif.

"Upaya tersebut tentunya memerlukan sinergi yang harmoni di antara kementerian dan lembaga untuk bersama-sama fokus pada prioritas program pemulihan ekonomi nasional," tandasnya. (Tribunnews)

Editor: Vito
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved