Breaking News:

OPINI

Kiprah Santri untuk Negeri

Tahun ini adalah kali ke lima Hari Santri Nasional (HSN) diperingati, sejak disahkannya Hari Santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober.

Penulis: -
Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
opini Tribun Jateng 21/10/2020 

Penulis: Mohammad Iqbal Shukri, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang,  Alumus Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

TAHUN ini adalah kali ke lima Hari Santri Nasional (HSN) diperingati, sejak disahkannya Hari Santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober. Penetapan Hari Santri tersebut termaktub pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, yang di tandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

Peringatan Hari Santri 2020 ini berbeda dengan peringatan tahun-tahun sebelumnya. Sebab pada tahun ini kita memperingati Hari Santri di tengah murungnya negeri karena pandemi Covid-19.

Biasanya setiap datangnya momen peringatan Hari Santri selalu dibarengi dengan euforia kegembiraan. Berbagai macam perlombaan yang meriah selalu diadakan, adanya karnaval atau pawai santri di setiap daerah tidak ketinggalan. Namun peringatan Hari Santri tahun ini tentu berbeda, sebab kita harus masih berjuang untuk mencegah penyebaran pandemi ini agar tidak meluas.

Demi keselamatan bersama kita dituntut untuk merayakan Hari Santri dengan cara yang cerdas, sebab keselamatan adalah hal utama dibanding euforia kegembiraan semata dan sementara. Pastinya, kita tidak mau semangat euforia perayaan Hari Santri berakhir dengan duka. Maka dari itu salah satu kuncinya adalah dengan cara menurunkan egoisme perayaan Hari Santri, yang dapat menimbulkan kerumunan. Taati protokol kesehatan demi keselamatan bersama, sekaligus sebagai cerminan bahwa santri bisa disiplin aturan.

Meski dalam keterbatasan keadaan, kiranya masih ada alternatif lain agar Hari Santri tahun ini bisa tetap dirayakan, yaitu dengan cara virtual dengan bantuan teknologi. Beberapa pondok pesantren kiranya sudah menerapkan hal itu, tercermin dari beberapa rangkaian acara yang telah dilakukan secara virtual. Seperti adanya lomba membaca kitab kuning secara virtual ataupun lomba sholawat virtual.

Dari gambaran tersebut, menandakan bahwa santri dan pihak pondok pesantren semakin melek teknologi, hingga mampu beradaptasi pada situasi dan kondisi apapun, seperti situasi pandemi yang cukup sulit ini. Berkat kemajuan teknologi kita masih mampu merayakan Hari Santri dengan mengedepankan keselamatan dan rasa aman.

Perhatian terhadap santri

Semakin ke sini, kiranya santri menjadi salah satu titik perhatian dari pemerintah. Dari sisi kesehatan santri, saat pandemi misalnya, bulan Agustus lalu pemerintah melalui Kementrian Agama mencairkan dana sebesar Rp 2,599 triliun untuk membantu pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam di masa pandemi Covid-19. Anggaran tersebut disalurkan dalam bentuk Bantuan Operasional (BOP) dan diperuntukkan bagi 21.173 pesantren, sebagaimana dikutip dari Republika.co.id, Sabtu (29/8). Bantuan tersebut kiranya juga tidak luput atas keseriusan pondok pesantren yang turut aktif disiplin dalam mengampanyekan pentingnya menaati protokol kesehatan.

Meskipun begitu, ada sisi lain yang menjadi alasan bahwa memang kalangan santri sudah sepatutnya mendapatkan perhatian. Sebab jika ditilik dari sejarahnya, santri memiliki sumbangsih yang cukup besar bagi negeri ini. Dan peran santri dalam keberlangsungan negeri ini cukup signifikan. Seperti perjuangan santri dalam mempertahankan negeri ini dari para penjajah kolonial, melalui resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya kala itu. Hingga peristiwa tersebut dijadikan latar belakang peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved