Breaking News:

Fokus: Siswi Buang Bayinya Salah Siapa?

Semakin ke sini, sebagian orang menganggap zina bukan lagi perbuatan yang tabu tapi sudah dianggap lazim dan lumrah dalam masyarakat.

Penulis: Catur waskito Edy | Editor: Vito
tribunjateng/cetak
CATUR WASKITO EDY wartawan Tribun Jateng 

Oleh Catur Waskito Edy, Wartawan Tribun Jateng

KABAR penemuan bayi laki-laki dalam tas ransel dengan kondisi tali pusar masih menempel yang dibuang ibunya, Rabu (21/10) di Madiun Jawa Timur telah menghebohkan warga sekitar. Beruntung suara tangisan keras sang bayi telah didengar warga.

Warga mendengar suara tangisan menyanyat dari sebuah tas ransel sekolah yang ditutupi genteng. Ternyata setelah dia buka ternyata isinya bayi laki-laki yang baru dilahirkan.

Bayi malang dan tak berdosa tersebut kemudian dibawa ke klinik untuk mendapatkan perawatan. Warga yang geram dengan perilaku orang tua, khususnya ibu yang telah melahirkan bayi tersebut semakin shock setelah tahu ibunya ternyata masih duduk di bangku SMA.

Lebih mengagetkan lagi dari pengakuan siswi tersebut telah melahirkan bayinya seorang diri, tanpa bantuan siapa pun, lalu bayinya dibuang tak jauh dari rumahnya. Polisi pun masih menyelidiki pria yang menghamili siswi tersebut dan motif di balik pembuangan bayi laki-laki itu.

Kok bisa terjadi, ternyata selama ini, siswi tersebut tinggal bersama neneknya dan ditinggal mati ayahnya dan ibunya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri sehingga pengawasannya kurang.

Dari kisah ini bisa diambil pelajaran bagi orangtua dan siapa pun yang peduli dengan anak-anaknya. Sebenarnya apa yang salah dalam pembelajaran mental anak-anak sekarang, khususnya pendidikan agama sebagai benteng agar akhlak dan perilaku anak-anak kita mampu melawan godaan zaman saat ini.

Apakah kita sebagai orangtua tidak was-was dan seringkali kita jumpai di jalanan atau tempat umum, anak-anak SD, SMP apalagi SMA bermasyuk ria tanpa ada rasa malu dan canggung lagi.

Meski prihatin melihatnya, lalu apa yang bisa kita perbuat, Lah wong, orangtuanya saja cuek bebek, dalam tanda petik seolah merestui apa yang mereka lakukan.

Padahal sebagai orangtuanya nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Mereka akan ikut menanggung beban berat bila anak-anaknya sampai berzina.

Apalagi perangkap setan yang paling berbahaya untuk menyesatkan manusia adalah perbuatan zina yaitu hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan tanpa dilandasi pernikahan yang sah.

Semakin ke sini, sebagian orang menganggap zina bukan lagi perbuatan yang tabu tapi sudah dianggap lazim dan lumrah dalam masyarakat. Padahal dalam Islam zina merupakan salah satu perbuatan maksiat yang keji dan dosa besar.

Maka agar anak-anak kita terhindari dari perbuatan ini makan perlu diarahkan dan dikontrol serta dibekali ilmu agama yang baik dan benar.

Maka tidak ada salahnya sejak dini diarahkan untuk mencari ilmu agama secara benar di masjid atau tempat ibadah lainnya, bukan diserahkan kepada Mbah Google, yang ilmunya kebanyakan katanya-katanya atau pendapat seseorang.

Semoga kasus di atas bisa dijadikan bahan permenungan kita untuk memberikan pemahaman yang benar pada anak-anak kita agar terhindar dari perbuatan keji ini. Agar menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh dan bermartabat. Amin! (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved