Breaking News:

Berita Semarang

Pola Makan Salah, Anak Lebih Berisiko Terserang Penyakit Tidak Menular

Anak-anak kini lebih beresiko terserang Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti stroke, obesitas hingga diabetes.

Istimewa
Ilustrasi. Mahasiswa Undip Buat Program Pencegahan Obesitas Pada Anak 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Anak-anak kini lebih berisiko terserang Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti stroke, obesitas hingga diabetes. Hal ini dikarenakan pola makan anak sejak kecil sudah salah bahkan kacau.

Hal itu disampaikan Wied Harry Apriadji seorang Nutripreuner dan Penulis Buku Menu-menu Sehat Keluarga ketika berbincang Makan Sehat, Keluarga Gayeng, Anak Seneng di live Instagram akun @puspaga.jateng.

"Anak-anak kini berisiko PTM seperti stroke dan diabetes. Kemarin klien saya anak kelas 5 SD terkena stroke, diabetes kini juga mulai dialami oleh anak muda. Terkena Diabetes pola dua karena pola makan yang kacau, selain itu juga obesitas," kata Wied, Jumat (30/10/2020).

Wied mengatakan hal ini terjadi karena pola makan keluarga saat ini tidak seperti dahulu. Dikatakanya, dulu orangtua menyajikan makanan-makanan alami atau apa yang dipanen di alam. Pola makan itu kini semakin jauh dari alami, bentuk alami makanan kini mulai tidak terlihat.

Makanan sekarang lebih ultra-processed, yakni bahan makanan diolah bersama zat adiktif tertentu dan menghasilkan bentuk baru, aroma, visual, tekstur dan rasa menjadi rasa baru yang disukai anak-anak sekarang.

Wied mengatakan makanan seperti itu kaya dengan food edit sintetis dan kurang akan nutrisi, jika ada kandungan nutrisi itu hanya nutrisi sintesis. Dia melanjutkan ultra-processed sangat menguras enzim tubuh sehingga kurang baik untuk tumbuh dan daya kembang anak.

"Tidak hanya itu makanan yang tinggi bahan hewani dan tinggi lemak jahat juga akan sangat berpengaruh pada perilaku dan psikis anak. Misalnya makanan hewani seperti telur, ikan, ayam, udang dimakan sepanjang hari. Padahal tubuh kita satu hari satu jenis protein hewani sudah cukup," lanjut dia.

Mengkonsumsi makanan hewani terlalu banyak dapat membuat hormon kortisol menjadi naik. Hormon ini akan mempengaruhi emosi seseorang semakin tinggi.

"Binatang yang dipotong pasti akan mengalami stres maka hormon kortisol akan naik. Jika kita makan kortisol kita akan naik, apalagi ditambah dengan ayam tersebut digoreng dengan minyak yang sudah berkali-kali digunakan akan sangat berpengaruh kepada anak," lanjut Wied.

Agar tidak terjadi hal tersebut, dirinya menyampaikan anak-anak perlu dilatih makan sayur-sayuran sejak dini. Hal itu tentu berasal dari kesadaran orangtua untuk mengubah pola makan anak dan memberik asupan gizi yang cukup dan benar.

Halaman
12
Penulis: Mahfira Putri Maulani
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved