Breaking News:

Sekarang Dunia Terbalik: Dulu Boleh Salaman, Sekarang Bahaya

Sekarang kan dunianya dibalik, kalau dulu boleh salaman, sekarang salaman bahaya. Dulu itu kalau kalau dekat-dekat boleh, nyium cucu boleh

Tribun Bali
Ilustrasi Virus Corona 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Studi yang dilakukan Profesor Ekonomi dari Florida University, Yilmazkuday menunjukkan linieritas antara mobilitas masyarakat dengan penurunan kasus dan kematian akibat Virus Corona (Covid-19).

Dalam studinya sang profesor menjelaskan bahwa 1 persen peningkatan masyarakat yang berdiam di rumah akan mengurangi 70 kasus dan 7 kematian mingguan akibat Covid-19. Bahkan 1 persen pengurangan mobilitas masyarakat di tempat-tempat seperti terminal, stasiun, maupun bandara akan mengurangi 33 kasus dan 4 kematian mingguan akibat Covid-19.

Epidemolog dan Dewan Ahli Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Prof Hadi Pratomo menjelaskan tentang pentingnya menyadari bahwa kondisi kehidupan telah jauh berubah akibat Covid-19. Kalau dulu bertemu orang boleh salam-salaman, sekarang tidak boleh. Kalau dulu boleh mengekspresikan kasih sayang dengan bersentuhan dan berkunjung langsung, sekarang tidak boleh.Hal ini disampaikan Prof. Hadi Pratomo dalam diskusi 'Jiwa Sehat Liburan Aman dari Covid-19' yang disiarkan langsung di YouTube BNPB, Sabtu (31/10).

"Sekarang kan dunianya dibalik, kalau dulu boleh salaman, sekarang salaman bahaya. Dulu itu kalau kalau dekat-dekat boleh, nyium cucu boleh," ucap Prof Hadi.

Prof. Hadi menceritakan, sudah delapan bulan lamanya dia tidak menemui cucunya di Jawa Tengah. Hal ini dia lakukan karena ingin menjadi contoh sekaligus role model mencegah penularan Covid-19 bagi keluarga dan masyarakat. Prof. Hadi merasa bertanggung jawab dan harus memberikan contoh lantaran dirinya berada di Departemen Pendidikan Kesehatan dan Perubahan Perilaku. Bahkan, di saat libur panjang yang dimulai Senin 24 Oktober 2020 - Minggu 1 November 2020 besok, Prof. Hadi mengaku masih menahan diri untuk menemui sanak saudara di Jawa Tengah.

"Sekarang bayangkan, kalau dari Jakarta pulang ke Jogja, pulang ke Solo, eyangnya pastikan kepingin merangkul cucunya, merangkul anak-anaknya," katanya.

"Harus masing-masing tahu bahwa kasih sayang sekarang tidak harus diekspresikan dalam bentuk rangkulan, ciuman, dan sebagainya, justru harus dihindari," sambung dia.

Prof. Hadi memberikan imbauan kepada masyarakat Jakarta yang mudik di masa libur panjang ini. Dia menyarankan agar pihak yang mengunjungi dan dikunjungi sama-sama menerapkan protokol kesehatan Covid-19."Jadi kalau akan mudik, dua belah pihak. Yang mau mudik keluarganya harus menjaga protokol kesehatan, artinya harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan selalu mencuci tangan dengan sabun. Sebaliknya yang didatangi juga harus melakukan yang sama," ucap Prof Hadi.

Ia menjelaskan, masyarakat agak susah beradaptasi dengan kebiasaan baru karena budaya atau kebiasaan-kebiasaan yang telah dijalani sebelum masa pandemi. Yang dulu harus pergi ke sekolah, sekarang malah sebaliknya harus di rumah. Dulu kalau ketemu orang bisa saling bersalaman dan sebagainya, sekarang justru harus saling menghindari. "Itu memang perlu waktu dan kembali lagi, model itu menjadi sangat penting," ucap Prof. Hadi.

Prof Hadi menyampaikan, agar segenap masyarakat menahan diri di masa pandemi ini.Utamanya agar mereka tidak bepergian sekalipun hari libur panjang telah tiba. "Saya sampaikan kalau bisa jangan pergi. Tetapi kalau tetap harus pergi, masing-masing nilainya harus diubah," kata dia.

Halaman
12
Editor: rustam aji
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved