Berita Kebumen
Tanggu Jebol Sungai Telomoyo Kebumen Mampu Dibendung
Hampir sepekan, masalah banjir di sejumlah wilayah di Kebumen belum terselesaikan.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, KEBUMEN - Hampir sepekan, masalah banjir di sejumlah wilayah di Kebumen belum terselesaikan.
Di Desa Madurejo Kecamatan Puring, sebagian pemukiman masih tergenang.
Genangan di pemukiman menjadi lebih lama surut karena sebaran daerah yang tergenang cukup merata.
Banjir bukan hanya melanda Desa Madurejo, namun juga desa-desa di sekitarnya.
Kadus 1 Desa Madurejo Akhsin Nawawi mengatakan, genangan di wilayah dusunnya, Dusun 1, belum kering karena kembali menerima limpahan dari desa tetangga, yakni Desa Purwodadi Kecamatan Kuwarasan.
Makanya, meski sungai Telomoyo sudah surut, genangan di wilayah itu masih ada.
"Di sini banyak sungai soalnya, bukan hanya Telomoyo,"katanya, Jumat (30/10)
Terlebih dataran itu lebih rendah dari daerah di sekitarnya, bahkan lebih rendah dari permukaan laut. Wajar jika wilayah itu mudah menjadi titik berkumpulnya air.
Di lain sisi, warga terdampak longsor hingga saat ini masih bolak balik ke tempat pengungsian. Saat air surut, mereka akan membali ke rumah masing-masing yang masih tergenang.
Tetapi saat debit air sungai Telomoyo naik, warga akan kembali ke pengungsian untuk mencari selamat. Saat debit naik, pemerintah setempat akan mengumumkannya melalui pengeras suara agar warga bersiap mengungsi.
"Tadi malam warga kembali ke pengingsian karena debit naik. Saat ini sudah kembali ke rumah lagi,"katanya
Sementara ratusan warga tiap hari bahu membahu memperbaiki tanggul sungai Telomoyo yang jebol. Jebolnya tanggul itu jadi pemicu utama genangan di pemukiman Desa Madurejo dan Desa sekitarnya, yakni Desa Sidobunder dan Desa Sidodadi.
Karenanya, perbaikan tanggul itu terus dikebut. Akhsin mengatakan, warga bersama petugas dan relawan telah memperbaiki tanggul sejak Selasa (27/10) lalu. Proses perbaikan diawali dengan cara membendung tanggul yang jebol dengan karung tanah. Kemudian pinggirannya diperkuat dengan trucuk bambu.
Pengerjaannya cukup berat dan memakan waktu karena pekerja berpacu dengan derasnya arus dan tingginya debit air sungai. Kini aliran sungai telah terbendung. Warga bisa lebih tenang karena sumber petaka sedikit demi sedikit teratasi.
"Ini sudah terbedung. Tapi pekerjaan belum selesai,"katanya.