Breaking News:

Berita Jateng

Komisi B Harap Aturan Impor Diubah Jadi Untungkan Petani Bawang Putih di Jateng

Aturan wajib tanam bagi importir bawang putih belum sepenuhnya menguntungkan petani.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Mamdukh Adi Priyanto
Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah, Muhammad Ngainirrichadl 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG- Aturan wajib tanam bagi importir bawang putih belum sepenuhnya menguntungkan petani.

Hal itu lantaran keluarnya Peraturan Menteri Pertanian (Permantan) Nomor 46 tahun 2019 tentang pengembangan komoditas hortikultura strategis.

Dalam beleid tersebut importir bisa mendapatkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) terlebih dahulu sebelum melakukan wajib tanam.

Padahal sebelumnya, dalam pengajuan RIPH importir harus mencicil tanam dulu. Ketentuan wajib tanam 5 persen dari total kuota impor yang diajukan pemerintah.

Saat ini, Kementerian Pertanian tengah melakukan evaluasi terhadap aturan tersebut. Bahkan ada wacana wajib tanam dihapus dan diganti dengan membayar sejumlah uang.

Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah, Muhammad Ngainirrichadl, sangat menyayangkan jika aturan wajib tanam dihapus atau dilonggarkan.

"Jika tidak ada aturan wajib tanam lagi, petani bawang putih di Brebes, Tegal, Temanggung, Wonosobo makin menderita. Sangat disayangkan jika dihapus," kata Richad, Minggu (1/11/2020).

Seperti diketahui, aturan wajib tanam bagi importir dinilai menguntungkan para petani lokal. Importir akan bekerja sama dengan para petani pemilik lahan.

Bibit bawang putih diberikan kepada para petani dari importir. Setelah panen, bawang putih akan diserap importir.

"Aturan trial and error kepada petani jangan buat mainan. Saya tidak setuju jika aturan (wajib tanam) ini dihentikan. Jangan- jangan kalau dihentikan nanti kran impor bawang putih akan gede- gedean," tegas politikus PPP ini.

Menurutnya, dengan sistem wajib tanam tersebut, ke depannya bisa menjadikan Indonesia swasembada atau mencukupi kebutuhan produk hortikultura tersebut sendiri, tidak perlu impor lagi.

Di sisi lain, kata dia, selama ini saat petani panen bawang putih waktunya bersamaan dengan impor bawang putih gede- gedean.

Sehingga, produk para petani tidak laku dijual di pasaran. Mereka pun terpaksa tidak menjualnya dan memilih hasil panen dijadikan bibit untuk ditanam kembali.

Ia berharap pemerintah mengubah kebijakan aturan impor bawang putih supaya menguntungkan para petani.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved