Breaking News:

Dua Kuartal Pertumbuhan Ekonomi Minus, Indonesia Resmi Masuk Jurang Resesi

Airlangga berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya terkontraksi 1,6 atau 0,6 di kuartal ke IV.

Editor: rustam aji
Via Kompas.com
Ilustrasi - Resesi Ekonomi 

Eks direktur pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, penyerapan belanja negara mengalami akselerasi atau peningkatan pada kuartal III yaitu tumbuh 15,5 persen. "Penyerapan belanja negara, terutama ditopang oleh realisasi bantuan sosial dan dukungan untuk dunia usaha terutama usaha menengah kecil," pungkas Sri Mulyani.

Tidak Mengejutkan

Terpisah, Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Indonesia masuk resesi ekonomi, bukanlah hal mengejutkan.  Menurutnya, hal yang lebih utama saat ini ialah mencari solusi atas masalah ekonomi efek pandemi Covid-19.

“Pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh BPS  untuk periode Q3 2020 pada posisi -3,49 secara yoy (year on year, red) dan pada posisi resesi sudah kita prediksi kan sejak awal. Saat ini bukan lagi berdebat pada definisi resesi lagi,” ujar Misbakhun.

Ia menyebut, berbagai risiko akibat resesi harus benar-benar diantisipasi, sehingga tekanan pada sektor ekonomi tidak merembet pada sektor-sektor. “Yang penting tawaran solusinya. Harus ada upaya sungguh-sungguh untuk melakukan perbaikan-perbaikan di semua sektor ekonomi," ujarnya.

"Indikator negatif yang menjadi penyebab resesi harus dimitigasi, sehingga durasi resesi ekonomi yang kita alami tidak panjang dan cepat berlalu,” sambung Misbakhun.

Mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu menambahkan, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi saat ini muncul karena pandemi Covid-19. Sebab, banyak negara melakukan pembatasan sosial bahkan penguncian diri (lockdown) yang membuat seluruh dunia mengalami situasi dan keadaan sama.

“Pemerintah telah berupaya dengan kebijakan meningkatkan jumlah belanja bantuan sosial, bantuan modal pada UMKM, dan anggaran kesehatan yang besar untuk program menangani Covid-19,” tuturnya.

Namun, Misbakhun juga mengingatkan soal pentingnya perbaikan pada sisi permintaan, yang harus ada perbaikan pada sisi konsumsi rumah tangga. "Tanpa bantuan stimulus, mereka akan cenderung membatasi konsumsi,” cetusnya. Selain itu, Misbakhun juga menyinggung soal anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang perlu diperbesar lagi.

“Dengan demikian cakupan dan sektor-sektor yang harus diberi stimulus ekonomi juga lebih banyak, termasuk ke korporasi," papar Misbakhun.  Misbakhun pun mendorong pemerintah lebih serius dalam program penempatan dana di perbankan, untuk membantu program restrukturisasi kredit sektor perbankan. “Penempatan dana pemerintah ini akan sangat menyelamatkan sektor perbankan dan membantu likuiditasnya. Perbankan mengalami  kesulitan likuiditas akibat program restrukturisasi yang saat ini dijalankan guna menyelamatkan aktivitas sektor riil yang terhantam karena Covid-19,” katanya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved