Kamis, 11 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Kisah Sukses Pengusaha Bunga Plastik Kudus, Pernah Nelangsa Suami Kena PHK

Sejumlah keluarga harus memutar otak agar dapat bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19.

Tayang:
Penulis: raka f pujangga | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Raka F Pujangga
Sri Wahyuningsih (27), ‎warga Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus yang bertahan hidup lewat kreativitas mengembangkan bunga plastik. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Sejumlah keluarga harus memutar otak agar dapat bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19.

Begitu pu‎la kehidupan Sri Wahyuningsih (27), atau kerap disapa Ayun, ‎warga Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus yang berubah drastis.

Jika sebelum pandemi berlangsung Ayun hanya membantu ekonomi keluarganya, bekerja sebagai guru honorer di madrasah.

Ayun justru harus menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Suami saya korban PHK karena perusahaannya melakukan efisiensi dampak dari pandemi ini," ujar wanita yang memiliki dua orang anak itu.

‎Bagaikan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, Ayun juga punya kendala karena di saat bersamaan harus menjalani dua kali operasi.

Dia didiagnosis dokter menderita usus buntu‎, di tengah kondisi pandemi yang berlangsung tersebut.

"Karena saya operasi dua kali dalam waktu berdekatan, jahitannya susah kering dan mengeluarkan darah terus," ujar dia di rumahnya Jalan Pandean RT 2 RW 5, Kelurahan Jekulo itu.

Beruntung doa yang terus dipanjatkannya untuk meminta kesembuhannya pun terkabu hingga bisa beraktivitas kembali.

"Saya terus berdoa dan datang sama kiai sampai dikasih air putih yang sudah didoakan ‎biar segera sembuh," kata dia.

‎Setelah sembuh dan mengetahui suaminya yang tidak bekerja lagi mendorongnya untuk mengerjakan hobinya membuat kerajinan.

Bermodalkan kreativitas dan uang sebesar Rp 200 ribu, dia memulai ‎usaha kerajinan bunga plastik bernama A27.

Nama itu dipakai karena merupakan huruf pertama dari namanya dan angka 27 berkaitan dengan tanggal kelahirannya.

Ayun telah memulai usaha kreatifnya itu sejak bulan Juli 2020 karena terdampak pandemi corona.

"Karena saya sejak kecil dulu menyukai pra karya begini. Bulan Juli saya mencoba membuat bunga plastik ini," ujar dia.

Meski baru hitungan bulan, dia sudah bisa memasarkan produknya ke sejumlah wilayah dI antaranya Demak, Pati, Jepara dan Rembang.

Usahanya sukses berjalan mulus karena selama pandemi banyak orang yang melaksanakan work from home (WFH).

"Jadi selama pandemi itu banyak yang mencari tanaman untuk ‎hiburan di rumah. Termasuk bunga plastik ini," ujar dia.

Menurutnya, kelebihan bunga plastik dibandingkan bunga sungguhan adalah kemudahan dalam merawatnya. Tanaman yang terbuat dari plastik itu ‎tidak perlu repot menyirami setiap hari.

"‎Tanaman plastik nggak perlu disirami kayak tanaman biasanya. Tampilannya juga lebih menarik karena warnanya lebih cerah," ujarnya.

Dalam sehari, rata-rata dia bisa memproduksi sebanyak lima buah bunga plastik. Namun saat pesanannya banyak bisa mencapai 10 buah per hari.

Untuk memenuhi pesanan itu, Ayun saat ini dibantu memiliki lima orang pegawai yang membantunya dalam mengembangkan usaha itu.

"Awalnya hanya saya yang buat, tapi sekarang karena pesanan banyak. Ada tetangga yang tidak bekerja juga ikut membuat bunga ini," jelas dia.

Sri Wahyuningsih (27), ?warga Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus yang bertahan hidup lewat kreativitas mengembangkan bunga plastik.
Sri Wahyuningsih (27), ?warga Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus yang bertahan hidup lewat kreativitas mengembangkan bunga plastik. (Tribun Jateng/ Raka F Pujangga)

‎Dari modal hanya ratusan ribu, kini dia sudah bisa mengembangkan bunga plastik hingga memproduksi rak bunga.

‎Harga bunga dan raknya bervariasi, dijual mulai dari puluhan ribu hingga Rp 200 ribu per buahnya.

"Harganya tergantung ukuran. Saya jual lewat reseller dan akun instagram Ayunflowres," ujar dia.

Bahkan suaminya sekarang tidak lagi mencari pekerjaan, tetapi 100 persen membantunya berjualan bunga plastik.

Suaminya mengerjakan pesanan rak, mulai dari memotong kayu hingga mengolahnya menjadi rak cantik.

"Semuan‎ya dikerjakan di rumah dari memotong kayu sampai pengecatannya buat sendiri," jelas dia.

Sedangkan Ayun bertugas membuat bunga‎ yang cantik dan menghiasnya ke dalam pot-pot berwarna.

Batu alam juga dipakai untuk ikut menghiasi dasar bunga plastik karyanya agar nampak lebih alami.

"‎Biar terlihat alami kami pakai batu yang sudah diberi lem biar nggak berantakan ," jelas dia.

Dalam proses pembuatannya, Ayun mengaku tidak ada kendala karena hanya membutuhkan kreativitas.

Namun kesulitan justru datang karena tidak adanya bahan baku. Permintaan yang tinggi, membuatnya harus 'rebutan' dengan perajin lainnya.

"Karena pandemi ini permintaan kerajinan bunga plastiknya banyak jadi sulit dapat bahan bakunya. Ini saya ambil dari Semarang," ujar dia.

Apalagi tren tanaman janda bolong juga membuat kerajinan bunga plastik yang mirip janda bolong semakin laris.

"Saya tadinya punya banyak, alhamdulilah ini sudah laku. Tapi mau cari bahan bakunya lagi sudah sulit," jelas dia.

‎Dia berharap, usahanya itu mendapatkan dukungan banyak pihak agar dapat bertahan hidup selama pandemi.

"Reseller sekarang sudah ada dari Kudus dan sekitar. Kebanyakan teman-teman sendiri, totalnya ada sekitar 50 orang," ucapnya.‎ (raf)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved