Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Penanganan Corona

Sekolah Tatap Muka Dimulai Bertahap di Jateng, Yudi Minta Murid dan Guru Diminta Tes Swab

Sejumlah daerah di Jawa Tengah mulai menerapkan pembelajaran tatap muka. Beberapa ada yang masih melaksanakan uji coba.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/RAKA F PUJANGGA
SMKN 1 Kudus memulai uji coba pembelajaran tatap muka pada hari Senin (2/11/2020) ini 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG- Sejumlah daerah di Jawa Tengah mulai menerapkan pembelajaran tatap muka. Beberapa ada yang masih melaksanakan uji coba.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jateng meminta agar semua aspek diperhatikan.

Dari kajian epidemiologi hingga uji coba harua dilakukan terlebih dahulu.

Bahkan, anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto, mengusulkan kepada pemerintah agar ada tes usap atau swab serta tes cepat atau rapid test pengecekan virus corona.

"Ini penting. Kelihatanya siswa baik-baik saja, tapi bisa jadi terpapar dari keluarganya di rumah.

Sebagai antisipasi, swab dan rapid test ini mesti dilakukan dan kontinyu.

Hal ini mesti diperhatikan oleh Pak Gubernur," kata Yudi, Jumat (6/11/2020).

Memang, sekolah yang sudah memberlakukan tatap muka telah menerapkan protokol kesehatan.

Semisal siswa dan gurunya memakai masker, face shield, dan jaga jarak antara meja satu dengan yang lainnya.

Tempat cuci tangan dengan sabun serta hand sanitizer juga sudah disediakan pihak sekolah. Namun, kata dia, belum lah cukup.

Kekhawatiran muncul dan beralasan seiring dengan masih meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di provinsi ini.

"Rata-rata anak dan usia muda itu kan imun tubuhnya bagus.

Bisa jadi terpapar namun asymptomatic.

Terpapar Covid 19, namun tidak menimbulkan gejala apa-apa-apa tapi mereka bisa menularkan ke orang lain," jelas dewan dari Fraksi Partai Gerindra ini.

Dengan adanya pemeriksaan terlebih dulu sebelum pembelajaran, menimbulkan rasa aman dan nyaman tidak hanya untuk siswa, tetapi juga guru dan warga sekolah lain.

Langkah yang mesti ditempuh dengan kerja sama antara sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dan Dinas Kesehatan.

Terkait anggaran, kata dia, bisa saja diambilkan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Karena kebutuhan tes corona bisa masuk dalam instrumen penyelenggaraan pendidikan.

Swab maupun rapid test memang tidak harus dilakukan tiap hari, namun mesti keberlanjutan.

Semisal sepekan sekali atau dua pekan sekali.

"Jika ada anak yang hasil tes nya reaktif atau bahkan positif maka mesti dilakukan penanganan kesehatan dan pencegahan penularan," tegasnya.

Jika sekolah tidak bisa melaksanakan hal tersebut, kata dia, pembelajaran daring menjadi opsi terbaik.

Pembelajaran tatap muka bisa mulai dilakukan setelah pemerintah pusat menyediakan vaksin.

Sehingga tidak akan terjadi penyebaran Covid melalui klaster sekolah.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved