Uji Klinis Vaksin Covid-19 Sinovac Dirilis Januari 2021

Kalau kasus Covid-19 nasional sudah menurun dan stabil, nanti akan diputuskan bersama oleh tim-tim ahli terkait kapan Indonesia bisa buka masker

Editor: rustam aji
Shutterstock
Ilustrasi vaksin corona 

Hasil Uji Klinis Vaksin Covid-19 Sinovac Dirilis Januari 2021

Prof Soedjatmiko mengatakan, hasil uji klinis fase III vaksin Covid-19 Sinovac baru akan dirilis pada Januari tahun 2020. Perkiraan ini berdasarkan pada keterangan yang diperoleh Prof Soedjatmiko dari Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Prof Kusnaedi Rusmil.

Diinformasikan Prof Kusnaedi, hasil uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac fase III akan diperoleh pada akhir Desember tahun 2020. "Kemudian nanti akan dianalisis segala macam, Januari akan dipublikasikan, dibahas, nanti tim uji klinik akan menyimpulkan apakah vaksin ini akan dan efektif atau tidak," ucap Prof Soedjatmiko.

Hasil uji klinis fase III vaksin Covid-19 Sinovac itu kemudian akan dikaji lagi oleh Badan POM bernama Komite Penilai Obat dan Komite Ekspert. Dua komite Badan POM inilah yang menilai hasil laporan ini terkait apakah vaksin itu aman dan efektif atau tidak.

Penilaian efektif atau tidaknya dilakukan dengan melihat peningkatan kadarnya, antibodinya, dan epitaxy. Prof Soedjatmiko menjelaskan, hasil epitaxy baru bisa ketahuan tiga atau enam bulan kemudian setelah disuntik vaksin Covid-19."Kalau WHO bilang okay, nanti vaksin yang diuji klinik di Indonesia bisa dikirim ke luar negeri," kata dia.

Prof Soedjatmiko menceritakan pengalaman pribadinya saat melakukan uji klinis vaksin. Menurutnya, proses pengawasan uji klinis oleh Badan POM berlangsung sangat ketat lantaran harus diaudit setiap bulannya.

Sejauh ini Prof Soedjatmiko telah melakukan uji klinis vaksin sebanyak empat kali. Yang dia alami, pencatatan pelaporan uji klinik vaksin tiap bulan diaudit oleh Badan POM secara periodik. Kalau ada salah tulis, akan langsung ditanyakan."Coret tidak boleh ditipek segala macam. Sangat ketat pengawasan oleh badan POM. Saya merasakannya saat melakukan penelitian empat kali uji klinik, jadi sangat ketat," kata dia.

Mulai dari prosedur, protokol, pencatatan pelaporan, pelaksanaan diawasi, sampai pelaporannya, bagaimana mengambil kesimpulan, komite-komite badan POM juga berperan. Namun demikian Prof Soedjatmiko mengatakan, dia lebih suka bila uji klinis vaksin Covid-19 dilakukan di Indonesia. "Karena sudah pasti kalau dia aman, pasti aman untuk orang Indonesia. Dari 1620 itu kan macam-macam etnis," kata dia.

Namun demikian, meski uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac fase III dilakukan di Indonesia, hasil uji klinis di negara lain seperti di Brazil, Turki, Bangladesh, dan Chili, juga harus menjadi pertimbangan. Bila hasil uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac di Bandung dan di sejumlah negara hasilnya sama, maka bisa dipastikan penggunaan vaksin akan aman dan efektif.

"Kenapa? mereka juga beragam etnis. Kami juga akan menganalisis, kenapa badan POM sendiri pada saat akan mengeluarkan UAE, UEA, juga akan membandingkan hasil uji klinik di Bandung dengan uji klinik negara lain. Kalau semua hasilnya kurang lebih sama, maka bisa dipakai," kata dia.

Prof Soedjatmiko mengungkapkan, vaksin-vaksin yang dipakai masyarakat Indonesia sehari-hari di rumah sakit swasta diimpor dari berbagai negara. Semua vaksin itu melalui uji klinis di negara masing-masing. "Tidak dilakukan di Indonesia. Jadi mulai dari tahun 70-an kita mengimpor berbagai vaksin, ternyata aman-aman karena memang pengujiannya diawasi ketat mengikuti prosedur," lanjutnya. (tribun network/genik)

Sumber: Tribunnews.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved