Breaking News:

Opini: Janji Merawat Merapi

Hingga kini Merapi telah meletus sebanyak 68 kali. Letusan terkuat dan terbesar sepanjang sejarah adalah pada 1006.

Bram
Marjono 

Marjono
Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng

Dua hari berturut-turut Kompas.com (5-6/11) mengoyak progres Gunung Merapi. Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan status Gunung Merapi dari Waspada ke Siaga (level III).
Adapun, status Siaga dari Gunung Merapi itu ditetapkan pada Kamis (5/11). Berdasarkan evaluasi data pemantauan, disimpulkan aktivitas vulkanik saat itu dapat berlanjut ke aktivitas yang membahayakan penduduk. Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida.
Terkait dengan status level 3 siaga Gunung Merapi tersebut, ahli vulkanologi Surono mengatakan, status gunung api merupakan bagian dari peringatan dini gunung api itu. "Status itu hak gunung api, kaitannya dengan aktivitas gunung api tersebut."
Mbah Rono juga menegaskan, "Status gunung api juga merupakan hak masyarakat untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, sehingga dapat meminimalisir risiko dampak aktivitas gunung api. Jadi, bukan untuk meramalkan kapan dan berapa besar letusannya," tegasnya.
Ia menambahkan, gunung api dengan status siaga bisa akan atau sedang meletus, tetapi gunung api dengan status itu, bisa juga tidak meletus. Sehingga, pemerintah penting melakukan pencegahan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana kawasan gunung berapi, termasuk Merapi yang membawahi empat kabupaten, yakni Klaten, Boyolali, Magelang (Jateng), dan Sleman (DIY).
Dengan terinformasikannya status Gunung Merapi sekarang ini, sekurangnya menjadi bagian dari upaya menggugah kewaspadaan dini masyarakat, agar ada dukungan spirit antar-masyarakat di kawasan rawan bencana (KRB), serta secara tidak langsung masyarakat saling menjaga kekompakan, bertukar informasi, dan bersama mengelola risiko terhadap ancaman Gunung Merapi.
Perlu diingat bahwa semakin tercipta rasa memiliki, melindungi, dan menjaga kekompakan antar-masyarakat, maka kekuatan atau kapasitasnya akan naik, dan otomatis berbagai kerentanan yang ada di masyarakat dapat diminimalisir dan dikurangi.
Hal itu penting agar masyarakat di sekitar Merapi tetap dapat hidup aman, nyaman dan selamat dari ancaman bencana merapi, serta terwujudnya peran aktif masyarakat. Dari responsif menjadi preventif (mencegah), dan tanggap darurat menjadi pengurangan risiko bencana melalui kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana kawasan Gunung Merapi.
Kalau kita melihat sejarah meletusnya Merapi, sampai dengan saat ini Merapi telah meletus sebanyak 68 kali. Letusan Merapi berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Letusan terkuat dan terbesar sepanjang sejarah Merapi adalah pada 1006, 1872, 1994, dan 2010. Sementara 2 tahun silam terjadi letusan freatik Merapi.
Letusan pada 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, dan menyebabkan pusat Kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan pada Oktober dan November 2010, memakan korban nyawa 273 jiwa, bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20-30 km.
Kita semua tentu menginginkan agar dampak negatif dan korban yang ditimbulkan oleh erupsi Merapi sangat minimal. Ini tanggung jawab kita semua, tidak hanya pemerintah. Sudah saatnya masyarakat menjadi aktor utama dalam mengurangi risiko bencana. 
Meningkatkan kapasitas
Dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengetahuan dan ketangguhan menghadapi bencana, diharapkan dapat meningkatkan kemandirian serta mengurangi korban dan kerugian akibat bencana. Sikap empati, peduli, dan berbagi antar sesama, harus terus ditumbuhkembangkan. 
Penting bagi semuanya untuk terus merawat sikap preventif, bukan sekedar reaktif, dengan pelibatan masyarakat dan interaksi sosial sebagai komunikasi efektif. Implementasi riilnya, misalnya dengan menyuburkan nilai-nilai gotong royong dalam pencegahan, penanggulangan, maupun rehabilitasi pasca bencana.
Jadi, yang kita harapkan, masyarakat memiliki kewaspadaan, kesiagaan, kecepatan dan kecekatan dalam menghadapi bencana. Mengerti apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana dan sanggup melakukan recovery atau pemulihan secara mandiri pasca bencana.
Pada prinsipnya, masyarakat memiliki ketahanan, kemandirian dan kesengkuyungan dalam menanggulangi bencana. Dalam situasi seperti ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (Kompas.com, 5/11) meminta masyarakat tak perlu panik tapi tetap waspada, dan semua pihak mesti terus mendampingi warga, karena masyarakat setempat paham atas kondisi sekitarnya.
Selain itu, penting bagi pemda menyiapkan tempat pengungsian, misalnya memanfaatkan gedung sekolah yang masih kosong belum digunakan belajar tatap muka dan menerapkan protokol kesehatan, sebab masih pandemi, jadi harus menjaga jarak.
Tak kalah penting, Ganjar juga meminta seluruh peralatan peringatan dini atau early warning system (EWS) yang ada harus dihidupkan dan dipantau semuanya. Kalau yang tidak ada EWS-nya, maka yang sifatnya tradisional harus disiapkan, seperti membunyikan kentongan maupun kearifan lokal lainnya.
Di sini, segenap aktivitas wisata dan penambangan harus distop hingga status Merapi aman kembali. Bagaimana pun, Merapi yang saat ini berada pada kondisi siaga, punya potensi untuk kembali erupsi. Apalagi, para ahli menyatakan Gunung Merapi akan meletus dengan interval waktu antara 4-7 tahun. Kalau kejadian terakhir meletus pada 2010 yang menelan banyak korban, saat ini sudah 10 tahun berselang.
Kesiapsiagaan dan kewaspadaan perlu ditingkatkan. Segala daya perlu dilakukan guna meminimalisir dampak dari ketidakpastian, dengan melakukan pengembangan skenario dan proyeksi kebutuhan saat keadaan darurat terjadi.
Pada prinsipnya, kita mesti waspada dan perlu melakukan langkah-langkah antisipasi dan siap siaga atas kemungkinan terjadinya bencana erupsi Merapi. Pemantauan terhadap kondisi Gunung Merapi harus intens dilakukan. Bagaimana progresnya dan diinformasikan pula kepada masyarakat.
Pun edukasi terhadap masyarakat harus terus dilakukan agar masyarakat sekitar Gunung Merapi punya pemahaman yang baik dan selalu siap menghadapi risiko bencana yang terjadi. Jadi, masyarakat itu mesti tahu level tingkat aktivitas Gunung Merapi dan bagaimana mereka harus berbuat dan beraktivitas.
Satu hal lain yang tidak kalah penting, kerja sama antar-institusi pengemban mitigasi bencana makin diperkuat agar upaya mitigasi bencana berjalan lebih efektif dan sinergis. Seluruh pemangku kepentingan bersama masyarakat terus bergerak bersama untuk antisipasi dan siaga membantu warga. Doa kami, semoga tak terjadi erupsi, dan kami berjanji untuk terus merawat Merapi. (*)

Editor: Vito
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved