Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Penanganan Corona

Pemilik Kena PHK Dampak Corona, Kucing dan Anjing Peliharaan di Semarang Ikut Terlantar

Pandemi virus Corona menyebabkan para pemilik hewan peliharaan anjing dan kucing di Kota Semarang memilih merelakan hewan kesayangnnya dilepas. 

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: galih permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pandemi virus Corona menyebabkan para pemilik hewan peliharaan anjing dan kucing di Kota Semarang memilih merelakan hewan kesayangnnya dilepas. 

Hal itu buntut dari pandemi yang memaksa mereka kehilangan pekerjaan yang berujung dari hilangnya pendapatan sehingga tak mampu merawat hewan peliharaan. 

Ketua Rescue Paw Family, Ananta Alie mengungkapkan, selama pandemi pihaknya mengalami peningkatan rescue hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. 

Peningkatan tersebut hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelum pandemi. 

"Dulu kami hanya menyelamatkan 10 hewan terlantar dalam sebulan, kini selama pandemi kami berjibaku menyelamatkan hewan terlantar hingga 30 hewan bahkan lebih," ujarnya kepada Tribunjateng.com, Senin (16/11/2020).

Dia mencontohkan ada satu keluarga di PHK dari pekerjaan mereka di pabrik. 

Mereka memilih menghibahkan hewan peliharaan mereka melalui akun medsos.

Pihaknya mendapatkan laporan tersebut dari nitizen yang masuk ke akun media sosial. 

"Kami lantas survey kondisi mereka.

Karena betul-betul tak mempunyai pekerjaan akhirnya kami memilih ambil anjing itu lalu mencarikannya adaptor baru," katanya. 

Tidak jarang, Ananta dan komunitasnya menjumpai pemilik yang mengancam jika anjing peliharaan mereka tak diambil maka akan diserahkan ke penyembelihan hewan. 

Menurutnya, hal itu dilakukan karena pemilik tak tega membuang anjing mereka sehingga mereka mengancam melalui akun medsos. 

Tentu pihaknya tak terima jika anjing ditaruh di penyembelihan, akhirnya memilih mengambil anjing tersebut. 

"Kami juga banyak menemukan kasus anjing ditelantarkan di rumah kosong tanpa diberi makan," ujarnya. 

Akibat meningkatnya angka anjing dan kucing terlantar, Ananta menjelaskan, tiga  tempat penampungan atau shelter binaannya kini penuh bahkan cenderung overload. 

Tiga shelter tersebut berada Puri anjasmoro blok P9 nomor 22, shelter Jalan Serayu Kota Semarang dan Kota Salatiga. 

"Kami terus mencari adaptor baru karena kalau tidak begitu tidak ada habisnya apalagi shelter kami terbatas," paparnya. 

Ananta menyebut, dari total hewan yang diselamatkan didominasi oleh kucing daripada anjing. 

Namun ketika mereka menyelamatkan anjing biasanya dalam kondisi mengenaskan. 

Satu di antaranya kasus di daerah Cinde Semarang, ada anjing sengaja dilindas oleh mobil Avanza warna putih.

Ketika akan dilindas kedua kalinya beruntung ada tukang nasi goreng menyelamatkan anjing tersebut dan pengendara mobil itu kabur. 

Kini kondisi anjing itu masih hidup selepas menempuh penanganan medis mulai dari ortopedi, fisioterapi dan rangkaian operasi di sebuah dokter hewan di Bandung. 

Berikutnya anjing dalam kondisi pinggul berlubang akibat pukulan kayu berpaku sehingga anjing tersebut lumpuh. 

"Belum lagi kasus berat lain yang menimpa anjing seperti anjing ras dibuang di Graha Candi Golf yang muka rusak separuh setelah penangan medis nyawa anjing itu tak terselamatkan," katanya. 

Berbagai kekerasan terhadap hewan, Ananta berharap masyarakat dapat lebih menunjukan sikap saling menyayangi terhadap binatang baik anjing, kucing maupun hewan lain. 

Dia mengatakan, hewan itu bukan barang mereka juga mahluk hidup sehingga butuh kasih sayang dan dirawat. 

"Lepas dari itu, tidak bisa dipungkiri masalah penganiyaaan hewan hukumnya masih lemah," katanya. 

Hal senada disampaikan pemilik shelter Puri Anjasmoro, Yulita mengatakan, masa pandemi menemukan banyak kucing dan anjing yang terlantar. 

Dia tidak bisa merinci jumlahnya hanya saja pandangan matanya melihat banyak sekali hewan yang makin terlantar. 

"Di pasar Karangayu dan tempat pembuangan sampah (TPS) banyak sekali kucing dan anjing yang terlantar. 

Apalagi masa pandemi mungkin banyak yang tak kuat bayar biaya makan hewan tersebut," katanya. 

Dia lantas lebih rutin memberikan makan kucing dan anjing di pasar dan TPS. 

Hal itu sudah dilakukannya sejak 8 tahun lalu. Namun makin intensif selama masa pandemi. 

"Karena jumlah makin banyak bawa makan juga banyak, ada teman juga yang membantu memberi makan tiap malam bahkan ketika hujan kami tetap berangkat," katanya. 

Dia menuturkan, tidak semua anjing atau kucing diadopsi oleh pihaknya. 

Ada beberapa kriteria yang menjadi alasan pihaknya mengadopsi hewan tersebut di antaranya anak kucing yang kehilangan induknya dan hewan yang sakit parah. 

"Shelter kami terbatas saat ini sudah menampung 30 kucing dan 10 anjing, biaya setiap hari paling tidak Rp 50 ribu yang harus dikeluarkan untuk menghidupi para hewan-hewan tersebut," bebernya. 

(Iwn)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved