Breaking News:

Berita Semarang

Sidang Kasus Pembunuhan Tukang Becak di Semarang Kembali Ditunda, Ini Penyebabnya

Sidang kasus pembunuhan seorang tukang becak, Mitudin, yang digelar di PN Semarang, Kamis (19/11), kembali ditunda.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: sujarwo
Sidang Kasus Pembunuhan Tukang Becak di Semarang Kembali Ditunda, Ini Penyebabnya
Istimewa
Kuasa hukum terdakwa Nico Limarga dari LBH Mawar Saron Semarang

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sidang kasus pembunuhan seorang tukang becak, Mitudin, yang sedianya digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (19/11/2020), akhirnya kembali ditunda.

Majelis Hakim pemeriksa perkara membuka sidang secara virtual yang dihadiri oleh JPU dan kuasa hukum kedua terdakwa yaitu Yobel Hendrawan Herlianto dan Nico Limarga.

Sidang kali ini merupakan sidang lanjutan dari sidang sebelumnya yang sempat ditunda karena adanya alasan teknis, dimana pada saat saksi diperiksa dan tiba giliran kuasa hukum terdakwa untuk bertanya kepada saksi, tiba-tiba terjadi gangguan jaringan sehingga persidangan harus ditunda.

"Seyogyanya pemeriksaan saksi tersebut kembali diperiksa dalam sidang hari ini (Kamis--red), tapi lagi-lagi ditunda karena saksi tidak hadir," kata Tommi Sarwan Sinaga, kuasa hukum terdakwa Nico Limarga.

Hal tersebut diketahui setelah Majelis Hakim membuka sidang dan mempersilahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menghadirkan saksi ke persidangan.

Namun JPU menyatakan saksinya belum dapat hadir dan meminta waktu lagi untuk menghadirkan saksi. Atas permintaan JPU tersebut Majelis Hakim memberikan kesempatan kepada JPU untuk memanggil lagi saksi yang akan dihadirkan.

"Baik kita berikan waktu untuk mendatangkan para saksi. Mohon juga agar JPU memperhatikan masa penahanan para terdakwa, jangan sampai kita kehabisan waktu," ucap hakim sembari menutup sidang.

Kasus ini bermula dari adanya seorang tukang becak bernama Mitudin yang ditemukan meninggal dunia di daerah Imam Bonjol, Semarang.

Setelah dilakukan penyidikan oleh pihak Kepolisian, ditemukan bukti-bukti yang mengarah kepada beberapa orang yang diduga sebagai pelaku tindak pidana yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Dua di antaranya adalah para terdakwa yang saat ini dihadapkan dalam persidangan.

Atas hal tersebut para terdakwa didakwa dengan pasal pemberatan yakni dengan dakwaan melanggar Pasal 339 KUHP (Pembunuhan) Juncto Pasal 55 KUHP dan Pasal 365 KUHP (Pencurian disertai kekerasan) dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun.

"Kami tentu menghargai sikap Majelis Hakim pemeriksa perkara yang masih memberikan kesempatan kepada JPU untuk kembali memanggil atau menghadirkan saksi untuk kepentingan pembuktian," ujar Tommi, dari LBH Mawar Saron Semarang.

Namun demikian, Tommi berharap agar proses persidangan ini juga memperhatikan asas peradilan cepat, mengingat penundaan sidang ini adalah penundaan sidang ketiga kalinya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved