Liputan Khusus

Facebook Beritahu Cara Kroscek Informasi Apakah Asli atau Hoaks

Perhatikan alamat situs atau URL berita. Alamat situs atau URL palsu seringkali dibuat mirip aslinya dengan memberikan sedikit perubahan

Editor: iswidodo
google
TAMPILAN laman google jika diketik search LOGO FACEBOOK 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Jelang Pilkada Serentak 2020 ini, Bawaslu Jawa Tengah meningkatkan pantauan dan pengawasan media sosial. Komisoner Bawaslu Jawa Tengah, Rofiuddin, mengatakan terus berusaha mengamati pergerakan media sosial yang berkaitan dengan politik di Jawa Tengah.

Pengamatan tersebut dilakukan oleh tim cyber yang bekerja selama 24 jam. "Tujuan pengawasan itu supaya tidak ada akun-akun yang dikendalikan oleh paslon, tim pemenangan, maupun masyarakat yang disalahgunakan. Terutama untuk menyebarkan isu-isu black campaign yang sangat merugikan semua pihak," tuturnya.

Selain melakukan pengawasan, Bawaslu Jateng juga kerap menyebarkan video yang berisi ajakan untuk melakukan kampanye positif. Adapun, pihaknya juga meminta kepada beberapa tim pemenangan untuk melakukan sosialisasi langsung.

"Kami rutin melakukan himbauan-himbauan bagaimana cara berkampanye yang baik. Tidak merugikan semua pihak. Memastikan supaya tidak ada pelanggaran. Bila pun ada, pasti akan kami tindaklanjuti. Terutama yang berkaitan dengan pasal 69 Undang-undang no 8 tahun 2015 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota," terangnya.

Bawaslu Jawa Tengah juga mengawasi para pasangan calon, ketika melakukan pemasangan iklan di media cetak maupun di media elektronik. Sebab, pemasangan iklan hanya boleh dilakukan 14 hari sebelum masa tenang.

"Itupun dikoordinir oleh KPU dan media yang digunakan sudah harus terverifikasi oleh Dewan Pers. Kecuali, jika pasangan calon ingin memasang iklan di media daring dan media sosial kami persilakan. Karena tidak ada aturan mengenai hal itu," jelasnya.

Temuan-temuan akun yang menyebarkan maupun memunculkan isu kampanye hitam, akan langsung diproses oleh Bawaslu Jateng dan pihak kepolisian. Selain itu, Bawaslu juga telah bekerjasama dengan Facebook, Instagram, dan Twitter supaya lebih mudah menghapus konten yang berbau negatif.

"Bila kami menemukan atau menerima laporan dari netizen, langsung kami kroscek apakah benar atau tidak. Jika diketahui konten tersebut mengandung kampanye hitam, maka kami akan langsung meminta kepada pihak Facebook, Instagram, atau Twitter untuk men-takedown konten tersebut. Bawaslu juga berpegangan pada aturan-aturan yang sudah dibuat," tambahnya.

Sejauh ini Bawaslu Jateng mengaku sudah meminta kepada pengelola platform media sosial, untuk menghapus berbagai konten negatif yang berkaitan dengan kampanye paslon. Namun data tersebut sedang dalam proses pengumpulan dan akan diupdate pada tanggal 26 November nanti.

"Kami sudah melakukan permintaan take down konten. Datanya masih kami kumpulkan, nanti akan diupdate pada tanggal 26 November. Sejauh ini, sudah ada beberapa konten negatif yang kami tindak di Kebumen, Wonogiri, dan Kendal. Akun media sosial milik paslon yang didaftarkan KPU, juga menjadi sasaran pantauan kami," tegasnya.

Di Jawa Tengah kerap muncul berbagai informasi palsu atau hoax. Namun, berdasarkan kacamata Rofiuddin, tidak banyak masyarakat yang termakan dengan isu tersebut. Hal tersebut mengindikasikan apabila masyarakat sudah semakin cerdas dalam mencerna informasi yang tersebar di media sosial.

"Masyarakat Jawa Tengah saya rasa sudah sangat cerdas untuk memilih, mana informasi yang sesuai fakta dan yang tidak. Sehingga selama ini ketika bermunculan hoax di dunia maya, tidak menjadi massif karena warganet tidak ikut terpancing untuk menyebarkannya," kata Rofiuddin.

Communication Lead Facebook Indonesia, Putri Dewanti, yang dihubungi Tribunjateng.com, Sabtu (21/11) menyebut, Facebook memberikan tips kepada pengguna medsos agar tak termakat isu negatif atau hoaks. Di antaranya dengan bersikap skeptis terhadap judul. Berita palsu seringkali memiliki judul bombastis dengan huruf kapital dan tanda seru. Jika judul kelihatan mengejutkan dan tidak dapat dipercaya, maka kemungkinan itu berita palsu alias hoaks.

"Perhatikan alamat situs atau URL berita. Alamat situs atau URL palsu seringkali dibuat mirip aslinya dengan memberikan sedikit perubahan, semisal mengganti huruf kapital “I” dengan huruf kecil “I” atau mengganti nol “0” dengan “o”. Jika kurang yakin, anda dapat membuka jendela browser yang baru dan masuk ke dalam situs yang sebenarnya untuk membandingkan URL dengan sumber terpercaya," tuturnya.

Putri melanjutkan, pengguna diminta untuk memperhatikan baik-baik URL dan isi halaman beritanya. Pastikan berita tersebut ditulis oleh sumber yang dipercaya memiliki reputasi keakuratan yang baik. Jika berita tersebut berasal dari organisasi yang tidak dikenal, baca bagian "Tentang" di situs mereka untuk mempelajari selengkapnya.

"Misinformasi atau berita palsu mungkin juga berisi linimasa yang tidak masuk akal, atau tanggal peristiwa yang sudah diubah. Banyak juga situs berita palsu yang salah eja atau punya tata letak yang canggung. Bacalah dengan seksama untuk melihat tanda-tanda ini. Misinformasi atau berita palsu bisa juga berisi gambar atau video yang dimanipulasi. Atau terkadang foto tersebut memang asli, tetapi konteksnya berbeda. Bersikaplah skeptis terhadap penggunaan foto atau video yang seperti ini," papar Putri.

Berikutnya, periksalah sumber informasi penulis untuk mengkonfirmasi keakuratannya. Kurangnya bukti atau ketergantungan terhadap ahli-ahli yang tidak disebutkan namanya dapat mengindikasikan kabar berita palsu. "Laporkan berita palsu ke Facebook jika menemukan postingan berisi misinformasi atau berita palsu di Facebook. Caranya, • Klik ikon di ujung kanan postingan yang ingin anda laporkan • Pilih Cari dukungan atau laporkan postingan • Pilih Berita Palsu, lalu klik Selanjutnya • Klik Selesai," terang Putri. (tim)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved