Breaking News:

Smart Women

Triana Rahmawati Ubah Mindset Lembaga Sosial dengan Kembangkan Bisnis Kreatif sebagai Sumber Dana 

Bisnis, sosial, dan keluarga. Tiga hal itulah yang selalu dikerjakan secara bersamaan oleh Triana Rahmawati.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
ISTIMEWA
Triana Rahmawati menunjukkan produk kreatif yang dikembangkannya. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bisnis, sosial, dan keluarga. Tiga hal itulah yang selalu dikerjakan secara bersamaan oleh Triana Rahmawati. Semua kegiatan tersebut tentu tak luput dari bantuan sang suami bernama Siswandi Al Bukhori. Perempuan yang akrab dipanggil Tria ini memiliki beragam usaha dan segudang gerakan sosial. Maka tak pelak, bisa saja waktu 24 jam tak cukup bagi Tria, ditambah ia harus mengurusi anak pertamanya yang baru berusia 14 bulan tersebut.

"Ya kalau dikira-kira, seharian saya full ngurusin si kecil. Malam harinya baru mikirin gerakan sosial sama bisnisnya. Walaupun, seringnya tiga hal itu berjalan berbarengan. Siang harinya juga saya sering mengajar. Baik buat seminar, mentoring, maupun gerakan sosial lainnya," ujar ibu muda berusia 28 tahun ini kepada Tribunjateng.com.

Di bidang usaha, Tria sejauh ini telah menjalankan bisnis kreatif berupa jasa pembuatan kado dan souvenir untuk berbagai acara. Kemudian, ia juga menjual minyak esensial karya buatannya sendiri. Dari tiap usahanya itu, Tria ternyata menyediakan dana khusus untuk banyak kegiatan sosial. Seperti satu di antaranya adalah untuk beasiswa.

Baca juga: Anak-anak Main Air Hujan, Boleh Kah? Ini Kata Dokter Anak

Baca juga: Cemburu Istri Pertama, Mama Muda Rekam Aksi Aniaya Bayi Direndam di Ember, Video Dikirim ke Suami

Baca juga: Tarif Buzzer Pemula di Semarang Ikut Terkerek Viralnya Video Syur

Ia bilang beasiswa tersebut diperuntukan bagi para relawan dan mahasiswa. Beasiswa tersebut berupa tempat tinggal asrama yang diberikan secara gratis bagi para penerimanya. Tria menyebut, hingga saat ini hampir ada 50 orang penerima beasiswa tersebut. Mereka semua tinggal di tujuh asrama yang disediakan Tria.

"6 rumah di Solo, 1 sisanya di Tawangmangu, Karanganyar. Berhubung pandemi, kita jadi mengurangi. Sekarang, kami mengontrak 4 rumah aja karena para mahasiswa melakukan belajar dari rumah alias pulang kampung. Kita sediakan asrama untuk mahasiswi dan mahasiswa," tutur alumnus Sosiologi UNS itu.

Adapun tiga beasiswa yang diberikan Tria antara lain, Youth Project Scholarship, Givo Scholarship, dan Volunteer Scholarship. Beasiswa dari Youth Poject sendiri diperuntukan bagi para mahasiswi. Lalu Givo Scholarship untuk mahasiswa. Sedangkan Volunteer Scholarship khusus untuk para relawan di komunitas Griya Schizofren besutan Tria. Komunitas ini sendiri adalah wadah bagi anak muda yang peduli terhadap Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).

Selain asrama, Triana juga bakal memfasilitasi para penerima manfaat itu dengan les bahasa inggris, bantuan kegiatan pertukaran pelajar dari tingkat nasional hingga internasional, ruang literasi, mentoring, pelatihan, serta working space. Kegiatan sosial ini telah Tria mulai sejak tahun 2016 lalu, tepat setelah ia menikah. Dari serangkaian aksi sosialnya ini, Tria setidaknya sudah tampil beberapa kali di tujuh TV nasional.

Baca juga: Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kondisi Surya Paloh Stabil

Baca juga: Video Wajah Pencuri Motor Viral Terekam CCTV

Baca juga: Penerapan Machine Learning Jadi Fokus Workshop FTIK USM

"Kami awalnya membuka beasiswa bagi para mahasiswi dulu. Saya ingat dulu ada empat mahasiswi penerima manfaat pertama. Beasiswa ini sumber dananya diambil dari bisnis kamiyouthproject.id. Bisnis kita ini jualan kado dan jasa kreatif desain. Di tahun itu, konsepnya sesederhana. Apa yang kami punya, kami jadikan milik bersama. Rumah yang kami miliki, kami bagi menjadi asrama. Motor yang kami miliki dijadikan motor bersama karena penerima beasiswa kami dari kalangan menengah ke bawah yang tidak memiliki kendaraan. Untuk makan pun sama," cerita Tria sembari mengenang.

Semua gerakan sosialnya ini memang berawal dari aktivitas Tria selama kuliah. Namun bedanya, Tria saat kuliah melakukan aksi sosial dengan menghimpun dana dari para donatur. Setelah lulus, Tria mengubah paradigma itu. Ia yakin bahwa melakukan gerakan sosial pun bisa didapat dari jerih upaya sendiri. Ia mengubah mindset bahwa gerakan dan donasi bisa diperoleh dari dirinya sendiri.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini ingat betul saat awal dulu memulai gerakan sosial tersebut dengan modal seadanya. Kata Tria, setara dengan gaji UMR Solo kala itu. Tria selalu yakin dengan pepatah "bukan seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa bermanfaat nilai guna barangnya”. Baginya, Tuhan itu menurunkan uang, bukan uang yang menurunkan Tuhan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved