Breaking News:

Hindari Vaksin Corona Palsu, Bio Farma Tempel Barcode Khusus

Bio Farma yang ditunjuk Pemerintah untuk mendistribusikan vaksin corona mandirimengaku sudah menyiapkan antisipasi beredarnya produk vaksin palsu

kompas.tv
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Vaksin menjadi solusi paling dekat untuk mengatasi pandemi virus corona yang hingga kini terus diupayakan pemerintah. Untuk mengamankan jatah vaksin bagi masyarakat Indonesia, Pemerintah sudah menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan yang memproduksi vaksin corona, seperti AztraZeneca dari Inggris hingga Sinovac dari China.

Sebagai produk yang pasti dicari banyak orang, vaksin corona menjadi rawan dipalsukan. Namun, PT Bio Farma (Persero) yang ditunjuk Pemerintah untuk mendistribusikan vaksin corona mandiri atau berbayar mengaku sudah menyiapkan antisipasi beredarnya produk vaksin corona tiruan atau palsu di masyarakat. Direktur Digital Health Care Bio Farma, Soleh Ayubi, mengatakan, pihaknya akan membuat ciri berbentuk barcode pada botol vaksin yang sulit untuk dipalsukan.

”Untuk proses yang berkaitan dengan alokasi, di solusi digitalnya sendiri ada beberapa, yang pertama, berkaitan dengan penempelan barcode terhadap botol atau vial vaksin, nanti juga akan ada penempelan barcode dari boksnya," ujar Soleh dalam konferensi pers, Selasa (24/11).

Selain menjadi penanda satu jenis produk, penyematan barcode dimaksudkan Bio Farma untuk menjamin keaslian vaksin. Barcode itu, kata Soleh, juga menyimpan informasi detail yang dibutuhkan pasien atau dokter untuk mengetahui kandungan dalam vaksin tersebut.

"Digital solution tujuannya ada beberapa hal, yang penting adalah terkait dengan keaslian. Tiga atau empat tahun lalu kan ada berita tentang vaksin palsu. Itu kita akan menghindari dengan penempelan barcode, akan digunakan secara mudah bagi calon pasien atau tenaga kesehatan, tinggal di-scan nanti akan muncul informasi detailnya," ucap Soleh.

Selain untuk membedakan asli atau tidaknya suatu produk, pemberian barcode juga dimaksudkan untuk memudahkan proses penelusuran dari produk vaksin tersebut. Sehingga dari penanda itu nantinya, diharapkan Bio Farma dapat menjadi alat monitoring proses distribusi vaksin dan siapa saja pihak yang mendapatkannya.

"Distribusi ini sangat rumit, source-nya limited, semua orang rebutan, kita ingin mendapat gambaran yang realtime terhadap distribusi ini. Vaksinnya ada di mana, siapa yang mengangkut," ungkap Soleh.

Soleh kemudian menjelaskan ada banyak tahapan penting dalam proses vaksinasi, mulai dari pengadaan, alokasi, distribusi, pendaftraran peserta, proses vaksinasi hingga penggabungan data vaksin mandiri dan pemerintah yang proses secara keseluruhannya tidaklah mudah.

Dengan tahapan yang melibatkan banyak pihak untuk melakukan vaksinasi dalam jumlah besar di waktu yang singkat, maka dibutuhkan teknologi baik perangkat lunak maupun keras agar proses yang tadinya manual itu bisa mendapat sentuhan otomatisasi. "Kami melakukan vaksinasi jumlahnya ratusan juta orang, kita perlu otomasi proses-proses yang tadinya manual jadi 100 persen otomatis atau sebagian besar otomatis," tuturnya.

Soleh mengatakan, teknologi dalam proses vaksinasi juga dibutuhkan untuk menghindari kesalahan atau error, mempercepat proses pendaftaran dan verifikasi penerima hingga menjamin kualitas vaksin.

Halaman
12
Editor: rustam aji
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved