Breaking News:

Berita Sragen

SMP Birrul Walidain Sragen Sukses Bikin Wastafel Otomatis Tanpa Sentuhan, Begini Cara Kerjanya

Alat cuci tangan atau wastafel dan hand sanitizer otomatis karya siswa-siswi SMP Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen diburu instansi pendidikan. 

Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Mahfira Putri Maulani
PLT Bupati Sragen Dedy Endriyatno didampingi Kepala SMP Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen, Amir ketika mencoba menggunakan wastafel otomatis. 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Alat cuci tangan atau wastafel dan hand sanitizer otomatis karya siswa-siswi SMP Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen diburu instansi pendidikan. 

Bahkan tim robotik, bersama pembina ekstrakulikuler robotik diminta melakukan pelatihan di beberapa sekolah luar daerah.

Alat ini bekerja berkat bantuan sensor ultrasonik. Jika seseorang berada di depan hand sanitizer maupun tempat cuci tangan, maka sensor akan mengeluarkan sinyal yang akan dikirim ke arduino.

Arduino ini akan memberikan sinyal gerakan ke servo. Servo kemudian menghasilkan tekanan ke tuas botol hand sanitizer maupun cuci tangan, sehingga cairan itu bisa keluar tanpa disentuh tangan.

Kepala SMP Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen, Amir mengatakan sekolahnya dipilih sebagai lokasi rapat kerja kepala sekolah SMP Muhammadiyah se-Jawa Tengah.

"Beberapa sekolah dari Pati, Blora, Temanggung sampai mengirimkan guru untuk studi banding di sini."

"Pekan depan perwakilan siswa dan pendampingan mengisi pelatihan membuat hand sanitizer otomatis di Cilacap," terang Amir kepada Tribunjateng.com, Kamis (26/11/2020).

Amir menyampaikan alat hand sanitizer otomatis ini telah di upgrade sebanyak tiga kali agar semakin baik. Paling anyar, alat ini tidak perlu menancap pada listrik namun hanya perlu di charger berkala.

Dirinya mengaku sekali charger untuk penggunaan normal di perkantoran bisa bertahan sampai kurang lebih satu pekan atau tujuh hari.

Penggunaan hand sanitizer dan cuci tangan ini dikatakanya sebagai bagian dari upaya sekolah memutus rantai persebaran virus Corona.

SMP Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen bahkan pernah dijadikan pilot project Pemda Sragen melalui dinas pendidikan untuk pembelajaran tatap muka.

Namun baru sepekan berjalan, pembelajaran tatap muka itu akhirnya dibatalkan karena kasus Covid-19 di Sragen terus mengalami peningkatan.

Sementara untuk pembelajaran sejauh ini masih menggunakan sistem daring. Hanya ada beberapa siswa yang diminta datang ke sekolah karena ada tugas dan hafalan yang belum terselesaikan.

"Pembelajaran sementara ya tetap daring. Tapi ada beberapa anak yang kita panggil ke sekolah karena ada tugas sekolah yang belum tuntas seperti ulangan dan hafalan," kata Amir. (uti)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved