Breaking News:

Bursa Mulai Pulih, Transaksi Harian di November Capai Rp 12,9 Triliun

RNTH pada November 2020 sebesar Rp 12,9 triliun/hari. Bahkan, pada perdagangan 30 November, nilai transaksi harian di bursa mencapai Rp 32,8 triliun.

Editor: Vito
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Pekerja merapikan dokumen membelakangi layar informasi pergerakan harga saham pada layar elektronik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, baru-baru ini. kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terpuruk di titik terendah pada Maret 2020 akibat pandemi covid-19, perlahan bangkit kembali. 

JAKARTA, TRIBUN - Pandemi Covid-19 menekan pergerakan harga saham baik di Indonesia maupun negara-negara lain. Mengutip catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tertekan 10,91 persen ke level 5.612 per 30 November 2020.

Kendati masih di zona merah, pergerakan IHSG saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan pada Maret 2020, ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus covid-19 pertama di Indonesia.

Pada saat itu, IHSG sempat menyentuh level terendahnya sepanjang 2020 yakni di level 3.937,63 per 24 Maret 2020, atau turun 37,49 persen year to date (ytd), dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu.

Seiring waktu berjalan, aktivitas perdagangan kian menunjukkan perbaikan. Hal itu tercermin dari kenaikan IHSG yang mencapai level 5.612,42 pada 30 November 2020.

Tak hanya itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada November 2020 mengalami peningkatan menjadi Rp 12,9 triliun/hari.

Bahkan, pada perdagangan pada 30 November, nilai transaksi harian di bursa mencapai Rp 32,8 triliun dengan total frekuensi 1.68 juta kali.

Nilai ini merupakan nilai transaksi harian tertinggi yang pernah tercatat sepanjang sejarah transaksi di BEI.

Di tengah pandemi covid-19 yang membayangi pergerakan IHSG, investor ritel juga meningkat. BEI mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2020 investor ritel mendominasi total trading value hingga 44,3 persen, disusul investor institusi domestik 21,7 persen, dan investor institusi asing 34 persen.

Melihat angka itu, Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi menyimpulkan, sepanjang 2020 ini investor domestik cenderung mendominasi perdagangan di bursa hingga lebih dari 60 persen.

Tekanan jual dari investor asing diserap investor domestik, khususnya investor ritel. "Bahwasanya ini memang tahun kebangkitan untuk (investor-Red) ritel kita," ungkapnya, dalam Media Gathering Pasar Modal 2020, yang digelar secara semi virtual, Selasa (1/12).

Inarno menambahkan, peningkatan jumlah investor maupun transaksi sepanjang 2020 juga tidak terlepas dari perubahan perilaku masyarakat selama pandemi covid-19.

Menurut dia, masyarakat yang memiliki dana lebih menjadi lebih terdorong masuk ke pasar. Ia pun berharap, perubahan perilaku itu akan terbawa hingga tahun depan, sehingga kinerja bursa akan semakin baik.

Adapun, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, per 19 November 2020 jumlah invetsor di pasar modal mencapai 3,53 juta. Jumlah itu meningkat signifikan 42,19 persen ytd dari posisi akhir tahun lalu sebanyak 2,48 juta.

Dari jumlah tersebut, sebesar 3,5 juta di antaranya merupakan investor individual, dan 32.073 lain merupakan investor institusi. Sementara itu, sebanyak 1,5 juta di antaranya merupakan investor C-Best atau saham. Jumlah itu juga meningkat 36,13 persen ytd dari akhir 2019 yang tercatat 1,14 juta.

Direktur Utama KSEI, Uriep Budhi Prasetyo mengamati, adanya kemudahan untuk membuka rekening melalui gadget menjadi satu pendorong peningkatan jumlah investor.

Belum lagi peraturan maupun kebijakan yang diterapkan di tengah pandemi covid-19 membuat pasar modal semakin menarik. (Kontan.co.id/Kenia Intan)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved