Breaking News:

Bea Cukai Tanjung Emas

Antisipasi Kekuatan Jempol, Bagaimana Caranya?

Media sosial harus dikelola dengan bijak sehingga berdampak baik bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kemenkeu Rahayu Puspasari menjadi relawan pengajar dalam Kemenkeu Mengajar (KM) 5 di SMA Negeri 3 Semarang, Senin (30/11/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Kekuatan jempol itu besar dampaknya. Tidak jarang yang mendadak jadi influencer karena tweets yang diunggahnya  Makanya, ujaran kebencian, radikalisme, pelecehan, dan diskriminasi harus dihindari," pesan ini terus diulang Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Rahayu Puspasari saat menjadi relawan pengajar dalam Kemenkeu Mengajar (KM) 5 di SMA Negeri 3 Semarang, Senin (30/11/2020).

Ia menekankan agar media sosial harus dikelola dengan bijak sehingga berdampak baik bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar.

“Words are free. It how you use them that costs you. Share konten yang baik, pilih kata yang sopan, bernalar kritis, serta bisa menahan diri dan mandiri.” ujar Puspa dalam tips bijak bermedsos untuk para siswa.

Manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi topik yang tak terlewatkan.

Puspa menjelaskan tentang pentingnya APBN.

“APBN dapat dikatakan sebagai Uang Kita, karena sumbernya dari masyarakat dan manfaatnya pun harus kembali ke masyarakat,” jelasnya.

“APBN adalah Uang Kita, uang rakyat Indonesia yang seluas-luasnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Uang Kita dari mana? Salah satunya berasal dari pajak yang dibayar oleh orang tua kita,” lanjutnya.

Mengakhiri paparannya, Puspa meneruskan pesan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar masyarakat terutama para pelajar dapat menjadi generasi yang positif dan konstruktif.

“Dalam perjalanan hidup, kalau kalian melihat kekurangan, maka perbaiki. Tidak usah mengeluh, apalagi mencaci di media sosial. Jadilah pribadi yang kritis tanpa menjadi sinis. Jadi generasi yang positif dan konstruktif, bukan destruktif,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Kemenkeu Mengajar adalah kegiatan sosial inisiatif para pegawai Kemenkeu yang berfokus untuk membangun karakter generasi bangsa sejak dini.

Pada tahun 2019 lalu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerima penghargaan Rekor Dunia dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Program Kerelawanan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pertama di Bidang Pengembangan Karakter untuk Siswa Sekolah Dasar (SD) di Indonesia melalui Kemenkeu Mengajar.

Antusias pegawai Kemenkeu dan sekolah untuk mengikuti KM 5 sangat tinggi.

Relawan Fasilitator KM 5 SMA Negeri 3 Semarang Johana Lanjar Wibowo menuturkan, “Tahun ini sedikitnya 1.250 relawan pegawai Kemenkeu berpartisipasi dalam KM 5. Sasaran KM 5 sejumlah 85 sekolah, yang tersebar di 52 kabupaten/kota dari 19 provinsi. Bahkan, ada 1 Sekolah Indonesia Luar Negeri di Malaysia.”

Pelaksanaan kegiatan kesukarelawanan ini menghadapi tantangan tersendiri.

“KM kali ini dilakukan secara daring atau online, mengingat masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Para relawan harus menyiapkan materi dan bahan ajar semenarik mungkin,”imbuhnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved