Breaking News:

Laris Selama Pandemi Covid 19, Bea Cukai Merazia 3000 Sex Toys

Penjualan sex toys atau alat bantu seks selama pandemi covid 19 meningkat

Editor: rustam aji
TribunSolo.com/Ryantono Puji Santoso
Barang tegahan atau sitaan yang akan dimusnahkan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) B Surakarta di Jalan Adi Sucipto No 17, Blulukan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Kamis (1/10/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Penjualan sex toys atau alat bantu seks selama pandemi covid 19 meningkat. Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai mengungkapkan ada kenaikan jumlah sex toys yang diperdagangkan secara ilegal, khususnya secara daring.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Ditjen Bea Cukai Syarif Hidayat mengatakan, pihaknya tahun ini dimana masih dalam situasi pandemi covid 19 merazia sebanyak 3.000 unit yang masuk ke berbagai wilayah di Indonesia.

"Tahun lalu jumlahnya 2.000 sekian. Tahun ini 3.000 sekian yang kita cegah tidak boleh masuk," ujarnya saat dihubungi Tribun, Jumat(4/12).

Dia menjelaskan, kalau jumlah barang tersebut dinominalkan maka hasilnya sekira Rp 1 miliar tahun ini dan Rp 1,3 miliar tahun lalu yang diperjualbelikan."Kalau dirupiahkan, Rp 1,3 miliar tahun lalu. Tahun ini masih dibawah 1 miliar, di toko online kita tidak paham mereka masuknya darimana," kata Syarif.

Menurutnya, investigasi terkait sumber masuknya barang ilegal berupa sex toys yang jelas dilarang di Indonesia berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 4 Tahun 2008 tentang pornografi ada di ranah Kepolisian.

"Kita sama-sama mengerti, tidak mudah jaga karena Indonesia terdiri dari banyak pulau, banyak titik masuk. Mungkin penyidik umum yang lakukan operasi, Kepolisian yang mem-sweeping," ujarnya.

Syarif Hidayat mengatakan, pasal 4 ayat 1 UU itu menyebut orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi, kecuali yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan. 

"Ada juga tentang larangan-larangannya. Di sana jelas larangan mengimpor, memperjualbelikan, dan menyediakan secara fisik (sex toys)" ujarnya.

Selain itu, Syarif menjelaskan, penjual dapat kena pidana berupa penjara hingga 12 tahun jika nekat memperdagangkan produk yang dilarang tersebut. "Ada ancaman pidananya di pasal 29 juga. Lumayan penjara 6 bulan sampai 12 tahun," katanya.

Sementara itu, dia menambahkan, peredaran barang-barang jenis sex toys di toko online bisa dipastikan tidak masuk resmi dari jalur Bea Cukai."Perkara di online shop, saya pastikan tidak masuk secara resmi karena di kita kalau kedeteksi, kita tangkap. Tidak boleh barang itu dijual," ujar Syarif.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved