Berita Kudus

Geliat Bisnis Pabrik Rokok Kudus di Tengah Pandemi, Sudah 90 Persen Pulih‎

Geliat bisnis sejumlah pabrik rokok di Kabupaten Kudus mulai normal kembali setelah dihantam pandemi.

Penulis: raka f pujangga | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Raka F Pujangga
Sejumlah buruh pabrik rokok Rajan Nabadi Kudus tengah mengemas rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT),di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kudus, Jumat (11/12/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS -  Geliat bisnis sejumlah pabrik rokok di Kabupaten Kudus mulai normal kembali setelah dihantam pandemi.

Pemilik Pabrik Rokok Rajan Nabadi Kudus, Sutrisno menjelaskan, di awal pandemi berlangsung sekitar awal tahun 2020 produksinya turun hingga lebih dari 50 persen.

"Sekarang ini kondisinya sudah kembali pulih, walaupun belum normal sekitar ‎90 persen," jelas dia, di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kudus, Jumat (11/12/2020).

Sutrisno mengatakan, tersendatnya penjualan rokok bukan karena berkurangnya perokok selama pandemi. Namun pemilik merek Jambu R Bold tersebut tidak bisa mengirimkan produkny ke beberapa wilayah berzona merah.

"Mau masuk kirim barang nggak bisa, karena ada daerah yang zona merah jadi turun penjualannya," jelas dia.

Biarpun sudah mulai kembali pulih penjualannya, pihaknya tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Sedikitnya 170 pekerja ‎diwajibkan untuk mengenakan masker saat sedang melakukan aktivitas pekerjaan.

"Setiap mau masuk bekerja, mereka harus pakai masker dan disemprot tangannya menggunakan hand sanitizer," jelas dia.

‎Pihaknya tetap memperhatikan kualitas produk rokok yang dihasilkan sekaligus mencegah penyebaran Covid-19

Saat ini, produksi rata-rata untuk sigaret kretek tangan (SKT) sebanyak 4,32 juta batang per bulannya selama pandemi.

"Ta‎pi produksi ini belum normal," ujar dia.

Terkait produksi rokok pada tahun 2021 mendatang, pihaknya belum bisa memprediksikannya.

Namun dia berencana akan merambah rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) mulai Januari mendatang.

"Tahun depan mulai buat SKM, sebelumnya hanya SKT dengan membuat empat merek," jelas dia.

‎Pihaknya sudah memesan sedikitnya satu rim pita cukai SKM berisi sebanyak 60 ribu keping pita cukai.

Sedangkan untuk pita cukai SKT yang dipesan sebanyak enam rim atau sebanyak 36 ribu keping pita cukai.

"Jumlah pita cukai yang kami pesan ini menyesuaikan rata-rata produksi‎ rokok selama tiga bulan yakni di bulan Oktober, November dan Desember," jelas dia.

Sementara itu, buruh rokok, Ani (42) menyampaikan, bersyukur selama pandemi masih dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari.

"Alhamdulilla‎h, yang penting pakai masker biar aman," ujar dia.  (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved