Breaking News:

Berita Kendal

Kadisdikbud Kendal: Simulasi KBM Tatap Muka Harus Kantongi Izin Kepala Daerah

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab Kendal berharap masyarakat tetap bersabar terkait pembelajaran tatap muka.

TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, Wahyu Yusuf Akhmadi. 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal Wahyu Yusuf Akhmadi berharap masyarakat tetap bersabar terkait diadakannya pembelajaran tatap muka. Kata Wahyu, sebelum pembelajaran tatap muka dilangsungkan, perlu dilakukan simulasi guna menyusun SOP yang matang.

Dalam pelaksanaan simulasi pun, Disdikbud harus mengantongi izin dari kepala daerah setempat dalam hal ini bupati. Wahyu tidak ingin gegabah mengambil langkah tanpa mematuhi aturan yang sudah dicanangkan pada SKB 4 menteri.

"Pekan depan surat terkait pemberitahuan simulasi ini sudah dirilis ke sekolah. Pesan bupati harus hati-hati. Terkait SKB 4 menteri, sudah kami sikapi dengan rapat 2 kali melibatkan dewan pengawas, perwakilan pengawas, perwakilan kelompok kerja kepala sekolah, perwakilan MKKS, ikatan dokter hingga pemerintah desa atau kelurahan untuk merumuskan," terang Wahyu, Jumat (11/12/2020).

Rencananya, Disdikbud Kendal bakal menggelar simulasi KBM tatap muka selama 2 pekan pada Januari mendatang.

Wahyu menegaskan, simulasi KBM tatap muka nanti sebagai acuan awal bagaimana penerapan protokol kesehatan di bidang pendidikan. Juga sebagai piloting terhadap sekolah yang benar-benar siap untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

Dalam hal ini, Disdikbud tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan siswa, serta semua guru dan tenaga pendidik. "Simulasi dilakukan dalam bentuk shifting, ada yang 1 hari hingga 3 hari tergantung jumlah siswa dan banyaknya rombongan belajar. Ini merupakan perpaduan pembejalan tatap muka dan PJJ," ujarnya.

Dalam skema setting ruangan, setiap kelas hanya diperkenankan diisi 50 persen siswa dari total kapasitas yang ada. Untuk SD sederajat, setiap kelas maksimal diisi 14 orang, untuk SMP maksimal 18 siswa, dan untuk Paud sederajat maksimal 5 anak.

Waktu pembelajaran hanya boleh berlangsung selama 3-4 jam tanpa adanya istirahat di luar kelas. Siswa juga diimbau untuk mebawa bekal makanan dan minuman sendiri karena sekolah tidak boleh membuka kantin serta tidak boleh mengizinkan pedagang berjualan di lingkungan sekolah.

"Simulasi rencana berlangsung 2 pekan. Setiap pekannya, tetap dilakukan evaluasi dengan melaporkan hasil dan kendalanya. Jika terjadi hal-hal yang tidak diduga, Dinas Pendidkkan berhak menghentikan simulasi. Termasuk jika terjadi kedaruratan di wilayah tertentu, misal di masyarakatnya tetap kita hentikan," tutupnya. (*)

--

Penulis: Saiful Ma'sum
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved