Berita Semarang
Ilkom USM Bekali Dosen dengan Pelatihan Penulisan Jurnal Internasional
Publikasi hasil penelitian ilmiah pada jurnal menjadi keharusan bagi setiap dosen sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Penulis: m zaenal arifin | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Publikasi hasil penelitian ilmiah pada jurnal menjadi keharusan bagi setiap dosen sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Ada trend kualitas penelitian ini ketika dosen mampu mempublikasikan ke jurnal ilmiah dengan standar internasional atau terindeks Scopus.
Namun bukan hal yang mudah untuk bisa mencapai standar ini. Terbatasnya jurnal terindeks Scopus belum mampu menampung kuantitas hasil penelitian yang dihasilkan oleh dosen seantero dunia.
Untuk itu, standar kualitas dan inovasi penelitian menjadi mutlak agar bisa lolos menghadapi kompetisi di antar dosen yang bersaing mempublikasikan karyanya ke jurnal internasional.
Untuk itu, Pusat Kajian Media dan Industri Kreatif Ilmu Komunikasi Universitas Semarang menyelenggarakan workshop "Write International Journal : Author's Guideance" yang ditujukan kepada dosen dosen di lingkungan Program Studi Ilmu Komunikasi dan Pariwisata FTIK Universitas Semarang (USM).
Editor In Chief Jurnal The Messenger yang juga dosen Ilmu Komunikasi USM, Yuliyanto Budi Setiawan mengatakan, tuntutan inovasi, kebaruan dan dampak dari tema penelitian menjadi kunci utama yang harus dipenuhi di awal saat akan melakukan penelitian.
Menurutnya, hasil dari penelitian inilah yang kemudian harus diselaraskan dengan aturan penulisan yang ditetapkan oleh Jurnal yang akan dituju.
"Tiap Jurnal punya standar bagaimana hasil penelitian itu harus ditulis. Ini yang harus jadi pedoman, termasuk mensitasi rujukan ilmiah yang akan dipakai agar tidak terjebak pada plagiarisme," kata Yuliyanto, dalam keterangan kepada Tribun Jateng, Rabu (16/12/2020).
Dalam prakteknya, saat menulis jurnal, dosen juga harus memperhatikan komposisi rujukan yang akan disitasi dalam karya tulisnya. Yuliyanto menambahkan, dalam satu jurnal 80 persen sumber rujukan harus diambil dari publikasi jurnal ilmiah yang memiliki tema yang sama.
"Jurnal yang menjadi rujukan pun disarankan tahun penelitiannya dilakukan 5 tahun terakhir," tambahnya.
Salah satu peserta workshop, Firdaus Azwar Ersyad mengaku sangat terbantu dengan workshop yang berlangsung selama lima jam itu. Selain diberikan tips dan trik menulis jurnal standar internasional.
"Adanya workshop ini, kami mendapat wawasan untuk melakukan pengecekan keberadaan Jurnal agar tidak terjebak pada penipuan Jurnal yang marak terjadi saat ini," ucapnya. (Nal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/editor-in-chief-jurnal-the-messenger-yang-juga-dosen-ilmu-komun.jpg)