Sultan Suryo Alam dan KPAA Begug Poernomosidi Mewisuda Siswa Medharsabda-Pranatacara TKB
Sultan Suryo Alam dan KPAA Begug Poernomosidi Mewisuda Siswa Medharsabda-Pranatacara TKB di Mranggen Demak
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suaranya masih lantang dan tegas. Sanggup berdiri tegak di podium dalam waktu lama meski usia sudah 84 tahun. Mengenakan baju gamis dan celana panjang putih serta blangkon, berdiri di hadapan puluhan wisudawan dan tamu kehormatan di Gedung Serbaguna Kantor Kelurahan Brumbung kecamatan Mranggen Kabupaten Demak.
Dialah KPAA Condrokusumo Suro Agul-Agul Begug Poernomosidi, yang tak lain adalah mantan Bupati Wonogiri dua periode. Minggu (20/12) malam, Panembahan Senopati Suro Agul-agul Begug Poernomosidi dan DYMM Sri Sultan Surya Alam Joyokusuma (Glagah Wangi Demak Bintoro) bersama pejabat dan perangkat di Brumbung, mewisuda peserta Pawiyatan Medharsabda-Pranatacara 'Tri Karsa Budaya'.
"Saat ini nasionalisme dan jiwa patriotisme harus terus dikobarkan. NKRI harga mati. Jangan biarkan ada pihak-pihak yang mengganggu keharmonisan persatuan dalam kebhinnekaan RI. Kita bersama harus siap bekerjasama melawan pandemi," tegas Begug disambut tepuk tangan.
Begug menyebut, anak muda wisudawan Pranatacara Medharsabda harus punya unggah ungguh, tata krama, sopan santun dan cinta budaya. Kecintaan terhadap budaya lokal dengan nguri-nguri dan terus mempelajari mempraktekkannya adalah bagian dari Cinta kepada Indonesia.
"Jangan kalah dengan saya yang sudah 84 tahun tapi masih sanggup keliling Nusantara untuk bersama mengajak masyarakat mencintai Indonesia," tegas Begug yang punya koleksi ribuan keris itu, pidato berapi-api.
Demikian juga Sultan Surya Alam, yang jauh lebih muda dari Begug, memberikan apresiasi kepada KRT Mustamin selaku pendiri perintis dan pengasuh pawiyatan Tri Karsa Budaya. "Ini banyak siswa yang diwisuda, bukti bahwa masih banyak warga kita yang cinta budaya dan melestarikan warisan adiluhung," kata Sultan Surya Alam, yang (menurut literasi) adalah keturunan Kanjeng sultan Fatah Syah Alam Akbar atau Kanjeng Sulton Adil Suryo Alam I dan Kanjeng Sunan Kalijaga.
Dia tegaskan di podium seusai acara wisuda, bahwa selayaknya masyarakat menaati anjuran pemerintah untuk memakai masker. Boleh percaya atau tidak silakan itu hak tiap orang, tapi yang jelas, masyarakat harus mengikuti aturan pemerintah. "Maka saya hadir di sini juga memakai masker," kata Sri Sultan Surya Alam yang sering berpakaian serba hitam dan blangkon juga hitam ini.
Acara wisuda ini juga selayaknya wisuda di universitas. Peserta pawiyatan pranatacara dan medharsabda berasal dari berbagai profesi, ada TNI, Polri, Guru, PNS, Penjahit, Pedagang, Pelaku UMKM dan lain-lain. Mereka mengenakan pakaian seragam atela warna biru, jaritan, blangkon dan keris lengkap serta sendal selop.
Satu persatu dipanggil ke panggung untuk disematkan kalung wisuda, pin, serta diserahkan ijazah dan buku pedoman pranatacara. Acara berlangsung meriah diiringi tabuhan gamelan grup karawitan.
"Diwisuda bukan berarti berhenti belajar dan latihan. Justru wisuda adalah awal dimulainya "gladhen" menjadi pranatacara medharsabda sekaligus mengemban amanah kebudayaan Jawa yang adiluhung," tutur KRT Mustamin sang Dwija Tri Karsa Budaya. (her/wid)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sejumlah-wisudawan-foto-bersama-sang-dwija-krt-mustamin.jpg)