Breaking News:

Berita Kudus

Berjuang Selama 18 Tahun, Jemaat Gereja Ini Laksanakan Ibadah Natal Sembunyi-sembunyi

Jemaat Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ) terpaksa harus menjalani perayaan ibadah natal secara 'sembunyi-sembunyi', di Desa Dermolo RT 02 RW 06, Kecam

IST
Jemaat Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ) menjalani perayaan ibadah natal secara 'sembunyi-sembunyi', di Desa Dermolo RT 02 RW 06, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jumat (25/12/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS -  Jemaat Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ) terpaksa harus menjalani perayaan ibadah natal secara 'sembunyi-sembunyi', di Desa Dermolo RT 02 RW 06, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jumat (25/12/2020). 

Hal itu karena GITJ masih dilarang digunakan untuk beribadah. Jemaat harus melaksanakan ibadah natal bertempat di gubug kecil yang lokasinya di belakang gereja tersebut.  

Bahkan dua tahun yang lalu, jemaat melaksanakan ibadah sampai harus ke gereja lain di Desa Beji, Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Padahal jarak gereja tersebut lebih jauh mencapai tujuh kilometer.

Baca juga: Terekam CCTV Satpam Ini Sudah Lecehkan Bu Dokter Cantik Sejak di Lift, Dipaksa ke Lantai yang Kosong

Baca juga: Kisah Bripka Endar Polisi Ganteng Bhabinkamtibmas di Semarang Bertugas Mengubur Jenazah Covid-19

Baca juga: Habib Hasan Berbagi Rezeki Hari Natal: Saya Hari Raya Idul Fitri Dapat Hadiah dari Mereka

Baca juga: Densus 88 Tangkap Hanif Ali Bahost Alias Abu Dayyan Bin Ali Muhammad Terduga Teroris

Pdt Theofillus Tumijan  menjelaskan gereja sudah lama memiliki izin mendirikan bangunan (IMB), namun masih saja belum dapat difungsikan karena tekanan dari berbagai pihak.

Dia menambahkan segala upaya mediasi dan berbagai pertemuan juga tidak membuahkan hasil sampai sekarang. 

Sehingga dia menilai belum menunjukkan keadilan bagi semua warga negara dan menemukan titik terang atas nasib gerejanya.

"Saya merasa heran, kenapa masih saja dilarang,  padahal agama kami juga sudah diakui negara tetapi masih ada hambatan-hambatan yang menghalangi kami beribadah. Bagaimana nasib anak dan cucu jemaat ke depannya, padahal mereka juga butuh siraman rohani keagamaan, butuh tempat berkumpul, dan butuh ruang beribadah," jelasnya, dalam keterangannya, Jumat (25/12/2020).

Theofillus Tumijan menambahkan, akan terus berusaha dan berupaya untuk memperjuangkan haknya  sampai bisa digunakan. 

"Gereja ini sudah berdiri lebih dari 18 tahun," ujar dia.

Pihaknya, siap menempuh jalur legal untuk mendapatkan kepastian dan belum ada titik yang terang.

Halaman
12
Penulis: raka f pujangga
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved