Breaking News:

Resensi Buku

Wujud Nyata Politisasi Agama di Indonesia

Pilpres 2019 senyatanya pertarungan dua narasi. Tidak hanya di bidang politik, ekonomi, namun juga agama, terutama Islam.

ISTIMEWA
CovercBuku Heresy and Politics 

“WHAT doesn't kill you, makes you stronger.” Kutipan ini adalah pernyataan seorang filsuf asal Jerman yang juga dikenal sebagai seorang kritikus budaya. Dialah Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900). “Apa yang tidak membunuhmu, akan membuatmu menjadi lebih kuat.” Begitu kurang lebih terjemahannya dalam bahasa Indonesia. ‘Membunuh’ di sini tentu memiliki banyak tafsir.

Kumpulan tulisan berbahasa Inggris karya peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ini tidak membahas Nietzsche. Tetapi ingin menangkap spirit dari kalimat yang sangat populer itu. Selain pesannya yang sarat akan optimisme, kombinasi kata dan frasa di dalam kalimat filosofis di atas mengandung makna yang sangat kuat.

Bertolak dari berbagai perbuatan ‘bid’ah politik’ yang terjadi, bangsa Indonesia bisa dibilang berhasil dalam melewati segala upaya ‘pembunuhan’. Bid’ah di sini bisa diartikan dalam budaya Indonesia sebagai penyimpangan, pemaksaan pendapat, penistaan, dan sejenisnya yang mengacu pada pertentangan atas doktrin agama yang oleh Ahmad Najib Burhani diistilahkan sebagai ‘heresy’.

Pada judul buku ini, kata ‘heresy’ disandingkan dengan ‘politics’. Alasannya merujuk pada fenomena politisasi agama yang marak dilakukan para aktor politik dalam laga Pilpres 2019 lalu. Sebuah pertarungan politik yang memicu pertaruhan hidup dan mati para politikus Muslim, “I consider this as a new kind of heresy.” (hlm. 8)

Baca juga: Risky Bangun Motivasi Diri untuk Hasilkan Karya Sastra

Baca juga: Hindari! Ini Jalan Protokol di Kota Semarang yang Ditutup saat Malam Tahun Baru

Baca juga: Tingkatkan Pelayanan, Tempat Uji Kir di Sragen Dilengkapi Tester Robotik

Pilpres 2019 senyatanya pertarungan dua narasi. Tidak hanya di bidang politik, ekonomi, namun juga agama, terutama Islam. Kubu oposisi kerap mengklaim diri sebagai kekuatan politik yang merepresentasikan perjuangan kelompok Islam. Klaim itu seolah mendapat pembenaran dengan mengalirnya dukungan ijtimak sebagian ulama terhadap pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sejurus dengan kubu oposisi, pihak petahana pun juga berupaya mendapatkan legitimasi dari eksponen kelompok lslam. Didaulatnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres mendampingi Joko Widodo secara eksplisit menunjukkan upaya tersebut.

Kendati cenderung sama-sama memainkan sentimen keislaman, masing-masing kubu agaknya memiliki pembatas yang jelas. Prabowo-Sandi yang diusung oposisi cenderung identik dengan kelompok Islam berhaluan konservatif. Kedatangan Prabowo ke acara Reuni Akbar 212 kian mengonfirmasi asumsi tersebut.

Pada titik ini, umat Islam senyatanya memiliki kesadaran kritis bahwa narasi keislaman yang dibangun oleh kedua kubu tidak lebih dari upaya mempolitisasi agama. Masing-masing kubu pada dasarnya tidak pernah menjadikan isu keislaman sebagai bagian dari platform perjuangan, alih-alih hanya komoditas politik yang dinilai potensial mengeruk suara.

Najib dalam buku ini seolah ingin menggugat para politisi yang dengan begitu tega membawa nama agama dan Tuhan dalam pertarungan politik. Petakanya, banyak orang begitu percaya. Mungkinkah 'kita', dalam kalimat Nietzsche "tuhan sudah mati, kita yang membunuhnya." adalah politisi-politisi semacam itu?

Bila demikian, Nietzsche sangat boleh jadi benar. Tuhan sudah mati di hati para politisi dan simpatisannya yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan pertarungan politik. Memenangkan pertarungan politik hanya untuk meraup keuntungan bagi pribadi dan golongannya.

Teringat ujaran politisi Amerika Serikat, Mario Cuomo (1932-2015) yang berbunyi, "You campaign in poetry, govern in prose." Janji-janji kampanye memang acapkali indah seperti untaian puisi. Ketika memimpin, janji-janji itu harus diterjemahkan ke dalam kebijakan-kebijakan nyata yang sifatnya tidak lagi puitis. Fakta yang tak terbantahkan, kebanyakan politisi hanya piawai menggubah puisi, namun gagal menyusun harmoni prosa yang indah.

Baca juga: Surat At Tariq Lengkap Arab Latin dan Artinya

Baca juga: Hasil Liga Inggris Newcastle United Vs Liverpool, The Reds Tak Mampu Jebol Pertahanan Tuan Rumah

Baca juga: Pembunuhan Sadis Pegawai Bank Cantik, Pacar Histeris Saat Kali Pertama Temukan Mayat

Buku ini membeberkan sekian fakta tentang harmoni kebangsaan yang tak pernah tuntas. Selain kasus politisasi agama, banyak kasus intoleransi atas nama agama, mulai kekerasan terhadap warga Ahmadiyah, bahkan persekusi terhadap sesama Muslim, sampai diskriminasi pada penganut agama minoritas. Pada masa kepemimpinan Jokowi, beragam kasus intoleransi dan pelanggaran atas kebebasan beragama itu lebih sering berakhir anti-klimaks tanpa ada penyelesaian.

Lebih lanjut, Najib menyorot tajam isu ortodoksi, radikalisme hingga terorisme. Selain membedah kasus-kasus politik teraktual, Najib juga menyertakan pembahasan konteks historis perjalanan politik berbagai kelompok Muslim di Indonesia, baik partai politik Islam maupun ormas Islam.

Adanya berbagai gejolak politik dalam negeri, menurut Najib, satu hal yang patut disyukuri ialah ketahanan Indonesia dalam mengelola aneka macam persoalan itu menjadikannya lebih kuat. Menjaga Indonesia agar tetap utuh sebagai NKRI yang berdaulat, melindungi segenap anak bangsa tanpa membedakan latar belakang suku, agama, dan status sosial sangat sulit. Tentu, ini adalah tanggung jawab setiap komponen bangsa. (Peresensi : Ahmad Fatoni, Pengajar Universitas Muhammadiyah Malang)

Penulis: -
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved