Berita Salatiga
Harga Kedelai Naik Rp 9.000, Perajin Tahu Salatiga: Ini Kondisi Paling Berat
Dampak harga bahan baku kedelai yang mengalami kenaikan mencapai Rp 9 ribu membuat perajin tahu di Kota Salatiga terpaksa membatasi jumlah produksi.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Dampak harga bahan baku kedelai yang mengalami kenaikan mencapai Rp 9 ribu membuat perajin tahu di Kota Salatiga terpaksa harus membatasi jumlah produksi.
Seorang perajin tahu di RT4/RW 4 Kelurahan Kalitaman, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga Sukarman mengatakan akibat lonjakan harga kedelai dari Rp 7.800 per kilogram menjadi Rp 9 ribu produksi tahu terganggu.
"Agar tetap bertahan kami terpaksa membatasi produksi hanya pesanan pelanggan saja yang kami cetak," terangnya kepada Tribunjateng.com, di lokasi, Senin (4/1/2021)
Menurut Sukarman, harga kedelai perkilogram saat ini berkisar antara Rp 9 ribu sampai Rp 9.300.
Padahal, idealnya maksimal harga tertinggi mencapai Rp 7.800.
Ia menambahkan, kenaikan harga kedelai tersebut merupakan harga tertinggi.
Sehingga perajin tahu agar bisa berproduksi secara normal dengan biaya bahan baku sekarang sangat terkendala.
"Ini kalau boleh kami bilang kondisi paling berat.
Saya tidak bisa menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran tahunya, karena ini untuk menjaga pelanggan agar tidak lari," katanya
Pihaknya mengungkapkan, tahu produksi Kalitaman selama ini untuk menyuplai kebutuhan industri rumahan seperti penjual jajanan tahu pong atau tahu bakso sisanya pedagang asongan.
Sukarman menyatakan, tahu buatannya dijual Rp 30 ribu per kotak atau setara 15 kilogram bahan baku kedelai.
Adapun kebutuhan produksi per hari bisa mencapai 2,5 kuintal.
"Tapi sekarang hanya satu kuintal karena hanya melayani pelanggan.
Saya berharap pemerintah turun tangan untuk membantu perajin tahu dan tempe.
Kalau tidak ada memberi subsidi pasti perajin bangkrut," ujarnya. (ris)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/perajin-tahu-salatiga.jpg)