Wamendag Mendorong Sosialisasi Bursa Berjangka Sasar Milenial
Keterlibatan masyarakat yang semakin besar tentu akan menjadi daya ungkit bagi perdagangan komoditas, yang akhirnya menggairahkan ekonomi.
JAKARTA, TRIBUN - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Jerry Sambuaga menekankan pentingnya sosialisasi Bursa Berjangka Komoditas. Menurutnya, pasar berjangka komoditas dapat menunjang kinerja perdagangan komoditas di Indonesia.
Ia menyebut, keterlibatan masyarakat sebagai investor akan memberikan dampak yang saling menguntungkan antara dunia usaha dalam negeri dan masyarakat itu sendiri.
“Sosialisasi harus ditingkatkan, khususnya di kalangan muda (milenial), agar mereka tahu manfaat dari Bursa Berjangka Komoditas," kata Wamendag, dalam pembukaan perdagangan Perdana Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) awal pekan ini, ditulis Selasa (5/1).
Sebagaimana pasar saham, Jerry menuturkan, Bursa Komoditas juga menjanjikan keuntungan, dan bisa dimanfaatkan peluangnya oleh masyarakat.
Keterlibatan masyarakat yang semakin besar tentu akan menjadi daya ungkit bagi perdagangan komoditas yang akhirnya menggairahkan ekonomi.
“Jadi keuntungannya riil, baik langsung maupun tak langsung. Dan ini akan meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.
Menurut dia, sosialisasi kesadaran terhadap pasar berjangka komoditas bisa dimulai di kampus-kampus. Hal itu karena mahasiswa dan dosen biasanya punya pandangan yang luas dan terbuka terhadap hal-hal baru.
Dengan demikian, mereka akan mendapat masukan bahwa pasar berjangka komoditas bisa menjadi peluang bagi mereka, di samping meningkatkan kesadaran untuk menggairahkan ekonomi nasional.
"Dengan jumlah mahasiswa dan pelajar yang banyak, mereka bisa membawa tren keikutsertaan dalam pasar berjangka komoditas," paparnya.
Pada 2020, pasar Berjangka Komoditas Indonesia, menurut catatan Bappebti, meraih transaksi penjualan sebesar 9,5 juta lot. Di tahun ini, ditargetkan jumlahnya meningkat menjadi 11 juta lot.
Peningkatan itu dipandang akan meningkatkan pula gairah pelaku usaha di sektor perdagangan komoditas.
Pemerintah mengajak agar pelaku usaha memandang optimis tahun 2021. Hal ini didasarkan telah dimulainya proses vaksinasi, sehingga hambatan-hambatan yang berkaitan dengan adanya pandemi covid-19 bisa segera diatasi.
Pada 2020 lalu, yaitu saat puncak pandemi, Indonesia justru mencatat surplus neraca perdagangan yang nilainya sekitar 20 miliar dolar AS.
"Ini tentu menjadi modal optimisme kita di 2021, bahwa kita bisa berkinerja lebih baik lagi," kata mantan anggota Komisi I DPR itu. (Tribunnews/Reynas Abdila)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/penjualan-bursa-berjangka-di-jateng-didominasi-produk-emas_20171004_211017.jpg)