Breaking News:

Berita Pati

Puncak Bencana Banjir di Pati Diprediksi pada Triwulan Pertama 2021, Masyarakat Diminta Waspada

Puncak intensitas bencana banjir di Kabupaten Pati diperkirakan terjadi pada triwulan pertama 2021 ini.

Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Mazka Hauzan Naufal
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Martinus Budi Prasetya ketika diwawancarai Tribunjateng.com di kantornya, Selasa (22/9/2020). 
Ilustrasi. Banjir di Kabupaten Pati.
Ilustrasi. Banjir di Kabupaten Pati. (Tribun Jateng/Mamduk Adi Priyanto)

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Puncak intensitas bencana banjir di Kabupaten Pati diperkirakan terjadi pada triwulan pertama 2021 ini.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya

Budi menyebut, prediksi ini sesuai informasi dari BPBD Provinsi Jawa Tengah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), di mana La Nina akan berlangsung hingga triwulan pertama 2021.

"Banjir sampai dengan Januari ini situasinya masih terkendali. Yang sampai menyebabkannya (tanggul) jebol hanya kemarin di Tunjungrejo Margoyoso saja. Setelah itu belum ada. Namun, siang kemarin baru saja di Desa Slungkep Kecamatan Kayen terjadi banjir bandang," kata dia, Jumat (8/1/2021).

Budi menambahkan, berdasarkan pantauannya, banjir di Pati mayoritas terjadi di areal persawahan. 

"Daerah-daerah seperti Kasiyan Kecamatan Sukolilo, Sunggingwarno dan Banjarsari Kecamatan Gabus itu yang sudah banjir. Namun sebagian besar di areal sawah. Sebagian kecil masuk permukiman, tapi ketinggian air rendah, 20 sampai 30 sentimeter," jelas Budi.

Ia mengatakan, terkait penanggulangan banjir, pihaknya sebetulnya sudah mendirikan posko kesiapsiagaan bencana pada Desember 2020 lalu. Namun, menurutnya, anggaran yang ada hanya mampu mencukupi kebutuhan selama bulan Desember saja.

"Jadi masih terkendala keterbatasan anggaran di BPBD. Itu kegiatan hanya bisa mengcover satu bulan. Kami belum berpikir bagaimana nanti mendirikan posko lagi," kata dia. 

Budi berharap, pengambil kebijakan di tingkat kabupaten bisa mengupayakan agar posko tersebut bisa tetap beroperasi.  Sebab, ia menilai keberadaan posko tersebut sangat membantu masyarakat dan BPBD.

"Unsurnya di dalamnya lengkap, ada TNI, kepolisian, dinas, kemudian relawan BPBD. Setiap hari mereka berkumpul di untuk kemudian memberikan penanganan ke tempat bencana, misalnya membantu distribusi logistik. Barangkali dibutuhkan pengungsian, kami juga siap membantu," papar dia.

Budi mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap datangnya banjir.

Ia berharap, curah hujan di Pati tidak terlampau tinggi intensitasnya. Sehingga, jikapun terjadi banjir tidak akan lebih parah dari sebelumnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved